Kamis, 13 Oktober 2011

DARAH TAK BERTUAN


M. S. Nashrullah
Sebuah kendaraan berhenti di halaman salah satu rumah di pemukiman yang sepi. Dilihat seperti apapun, orang akan langsung tahu bahwa itu adalah rumah tua, terlebih karena bentuk atau model rumah itu, sedangkan kayu-kayu atau bagian rumah yang sudah termakan zaman, telah diganti dengan yang baru.
Pasangan suami istri yang yang mengendarai kendaraan itu terdiam sejenak, memandangi rumah tua di hadapan mereka. Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hati mereka ketika mereka meneliti seluk-beluk bentuk rumah itu. Perasaan penasaran, gelisah, terancam, dan perasaan lain yang tak bisa dimengerti dan tak seharusnya dipicu oleh sebuah rumah tua biasa. Mungkinkah ini bukan rumah tua biasa?
Aran menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan apa yang ada dalam pikirannya. Diam-diam dia melirik ke arah istrinya yang masih termenung di belakangnya. Jelas dia masih menyimpan amarah pada suaminya itu. Aran tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Rasa-rasanya dia sudah memperbaiki sikap, tapi sepertinya itu tak ada artinya.
“Ah, assalamu’alaikum!” Sebuah sapaan yang mengejutkan terdengar dari belakang mereka. Pasangan suami istri itu serentak menoleh ke belakang. Seorang pria tua yang kelihatan ramah sedang tersenyum kepada mereka. Dilihat dari pakaiannya, jelas dia adalah petani yang hendak pergi ke sawah. “Wa’alaikum salam!” sahut pasangan itu.
“Eee… kalian siapa, ya? Kenapa kalian mampir di rumah kosong ini?” tanya pria tua itu. Si istri menghampiri orang tua itu, “Perkenalkan, saya Iin, saya adalah cucu Kai Iras, dan itu adalah suami saya, Aran!”  
“Oh, aku mengerti sekarang! Jadi kalian yang akan menempati rumah ini sepeninggal kakekmu, ya?”
“Benar sekali! Itu sudah menjadi keputusan keluarga kami, mulai sekarang kami berdua yang akan menempati rumah ini!”
“Wah, kalau begitu kita akan menjadi tetangga! Aku adalah teman baik kakekmu, orang-orang di kampung ini memanggilku Julak Ayat. Rumahku persis di seberang rumah kalian! Yang itu…” Dia menunjuk sebuah rumah di belakangnya, “… kuharap kita bisa menjadi tetangga yang baik, yang bisa saling bantu-membantu.”
“Iya, saya harap juga demikian! Yang jelas, kami yang sangat memerlukan bantuan Julak, terutama untuk mengenal lingkungan dan orang-orang di kampung ini! Harap maklum, biasa orang baru, hahaha …”
“Hahaha …itu hal yang biasa! Ya, kalau begitu, sudah dulu, ya? Aku harus ke sawah dulu! Kalian juga tentu harus membenahi rumah itu, kan?”
“Iya, semoga sukses, Lak! Hahaha…”
“Hahaha … Iya, kalian juga!”
Julak Ayat terdiam sejenak memandangi rumah tua di depannya. Matanya hampa seperti menatap kekosongan. Garis-garis kerutan di wajahnya seperti alur sejarah yang kelam. Misterius. Di kejauhan, Aran bergidik melihat perangai orang tua itu. Kemudian Julak Ayat berlalu menuju sawahnya, sedangkan pasangan suami istri itu kembali dibalut kebisuan. Aran beranjak dari motornya dan berjalan mendahului istrinya menuju pintu rumah itu. Dia memasukkan kuncinya, memutarnya, dan membuka pintunya.
Debu langsung berlomba masuk ke dalam rongga pernapasan mereka. Aran segera menutup hidungnya dan mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar wajahnya, namun Iin yang sedang melamun, tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya dan langsung menjadi korban. Dia terbatuk-batuk dan bersin karena menghirup debu itu. Aran melihat kesempatan untuk menunjukkan kepeduliannya, “Sayang, kamu tidak apa-apa?” Tapi dia malah dicuekin. “Hah, padahal baru saja ditinggalkan tapi debunya seperti sudah seabad tidak dihuni!” Aran geram. Setelah itu, mereka sibuk membenahi rumah itu, masih dalam kebisuan.
Malam pun tiba. Mendung yang sepanjang hari menggantung di langit, akhirnya tak sanggup lagi menahan gerimis yang dikandungnya. Nuansa suram terlahir menyertai kedipan petir dan jeritannya yang mengejutkan, mewarnai malam yang muram. Jiwa-jiwa gelisah yang terkungkung dalam tubuh-tubuh lelah, mau tak mau harus menyerah pada rasa kantuk dan terlelap dalam buaian mimpi.
Dalam rumah tua, Aran menguap dan surut ke dalam selimutnya yang nyaman. Sekilas dia melirik Iin. Seharian dipasung kebisuan lebih melelahkan daripada membersihkan rumah ini. Bagaimana dengan besok? pikirnya, apakah hal ini akan terus berlanjut? Kalau begitu sampai kapan? Dia jadi takut bertemu dengan hari esok. Dia berusaha terus terjaga, namun dengan tiba-tiba, matanya terpejam dan dengan begitu, hari esok yang ditakutinya akan terbentang di hadapannya tanpa disadarinya.
Iin menghela napas panjang. Tubuhnya membelakangi suaminya. Gerimis, hawa dingin, dan mata yang lelah, seharusnya sudah dari tadi dia menyerah pada rasa kantuk. Namun hawa panas di dadanya ini… amarah
Dengkuran Aran sungguh mengganggu. Tak sedetik pun Iin terbebas dari rasa benci pada suaminya. Dia beranjak dari tempat tidur. Sebaiknya dia menjauh, bagaimanapun dia harus menaklukkan amarah ini. Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi.
Secercah cahaya lampu teras menyusup ke dalam kegelapan, cukup untuk membimbing langkah Iin. Sesekali petir juga meledak dan menampakkan seluruh ruangan. Gerimis membentuk sebuah simfoni yang tak merdu ketika membentur genteng dan pekarangan, menenggelamkan nyaris seluruh suara,  namun masih ada sedikit suara samar-samar yang terdengar, seperti suara langkah Iin.
Suara langkah…?
Iin merasa seperti mendengar suara langkah di belakangnya. Samar-samar. Apakah Aran mengikutinya? Dia menengok ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkinkah itu hanya gema langkahnya? Atau hanya perasaannya saja? Sedikit merinding, Iin memutuskan untuk tidak memikirkannya. Dia terus berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, dia menghela napas panjang. Dia tak tahu bagaimana memadamkan amarahnya ini, tapi paling tidak dia berusaha. Dia pernah dengar bahwa marah itu adalah api, jadi harus dipadamkan dengan air. Karena itu, dia berpikir sepertinya wudhu bisa menaklukan amarahnya. Iin memutar keran, dan memandangi air yang jatuh. Di luar, gerimis yang semarak sepertinya sudah mulai beranjak pergi.
Seiring lamunan Iin yang kembali terbit, dan kian jelasnya terdengar suara-suara yang sebelumnya tenggelam dalam rinai hujan, dia kembali mendengar suara langkah yang tadi membuatnya merinding. “Duk, duk, duk, duk!” Suara itu sangat jelas, tidak lagi samar-samar. Iin menajamkan pendengarannya. Dari suaranya, langkah itu berat dan perlahan. Menuju ke arah kamar mandi. Persis ke arah Iin.
Ah, paling hanya Aran! Pikirnya, namun entah kenapa dia tetap merinding mendengar suara itu. Dalam perasaan takut dia memaksa dirinya berwudhu. “Duk, duk, duk, duk!” Suara itu terus mendekat. “Duk, duk, duk, duk!” Sekarang suara itu terdengar tepat berada di depan pintu kamar mandi.
Aran?” Rasa takut mendesak suaranya untuk keluar, tapi tak ada jawaban. Suara itu malah terhenti begitu saja. Keadaan pun hening seketika. Iin segera membuka pintu, “Ar-“ Suaranya terhenti di tenggorokan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Mustahil.
Iin cepat-cepat lari ke kamarnya. Pasti aku dikerjai Aran! Pikirnya, tapi yang terjadi benar-benar di luar dugaannya. Aran masih tertidur di ranjang. Mendengkur. “Aran! Bangun! Yang tadi itu kamu, kan?” Iin mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Aran berbalik. Matanya merah dan wajahnya terlihat menakutkan, seperti ingin menelan Iin hidup-hidup.
***
Haaah, paling-paling kakekmu jadi hantu!” bentak Aran, masih jengkel karena dibangunkan tadi malam. “Kalau bicara itu hati-hati, jangan sembarangan!” balas Iin. “Aku tidak sembarangan! Ada suara langkah yang menakutkan, bukan aku yang melakukannya, apalagi kamu, dan kakekmu baru saja meninggal! Itu masuk akal, kan?” Iin memukul bahu Aran, “Aku tak suka mendengar omonganmu!”
Ya, sudahlah! Maaf! Aku mau pergi kerja dulu, kamu tidak apa-apa, kan? Sendirian di rumah? Kalau kamu mendengar suara itu lagi, kamu langsung saja hubungi aku, supaya aku tak usah pulang, aku juga takut!” Aran melenggang pergi. Iin cuek. Tidak peduli.
Rencananya hari ini Iin hendak menanyakan kejadian yang dialaminya pada Julak Ayat, namun ketika dia mengetuk pintu rumahnya, tidak ada orang yang keluar. Rumahnya memang terlihat sepi. Kata tetangga yang lain, Julak Ayat sedang pergi ke luar kota, memenuhi undangan keluarganya yang menikah.
Iin hendak bertanya pada tetangganya itu yang bernama Acil Liha, tapi dia tidak akrab dengan wanita itu. Julak Ayatlah yang menawarkan bantuan pada Iin, hingga dia merasa wajar jika dia berkeluh kesah pada Julak Ayat yang juga mengaku berteman baik dengan kakeknya. Lagipula, jika Acil Liha berpikiran macam-macam seperti Aran dan menyebarkan pendapatnya itu pada tetangga-tetangga yang lain, Iin takut nama baik kakeknya akan rusak. Akhirnya, Iin kembali ke rumah tanpa satu pun petunjuk untuk memecahkan misteri itu.
Setelah itu, hampir seharian dia disibukkan dengan urusan rumah tangganya, hingga waktu kembali menjemput sang malam. Tidak seperti malam kemarin, malam ini langit bersih. Bintang-bintang bagai berlian yang berserakan di hamparan permadani malam, dan bulan purnama memandangi bumi dengan wajahnya yang pucat pasi.
Aran sudah cukup lama mendengkur, sedangkan Iin masih saja gelisah. Dia kembali tidak bisa tidur. Apalagi dia merasa ingin ke kamar kecil. Namun dia takut kejadian seperti semalam terulang lagi. Takut misteri yang belum terpecahkan itu hadir lagi dan benar-benar membuatnya gila. Setelah cukup lama menahan keinginannya, akhirnya dia tidak kuat lagi dan menyerah pada keputusan untuk menghadapi rasa takutnya itu.
Perlahan, Iin membuka pintu kamarnya. Menengok keluar dan memastikan tidak ada apa-apa. Dia merinding. Sebelum rasa takutnya semakin memuncak, dia berlari menuju toilet.
Akhirnya, dia keluar dari toilet dengan perasaan lega luar biasa. Tapi hatinya kembali dibekuk oleh rasa takut. Di hadapannya terbentang kegelapan yang suram. Bulan purnama dan lampu teras hanya memberikan cahaya samar-samar, dan seluruh ruangan dipenuhi oleh bayangan yang membeku.
Ah, apa itu? Iin tercekat, matanya sekilas menangkap gerakan dalam bayangan sebuah lemari di sampingnya, dan detik berikutnya sosok hitam menyergapnya tanpa memberinya waktu untuk mencerna apa sebenarnya yang sedang terjadi. Sosok itu mengunci lengannya dan membungkam mulutnya. Sosok itu juga mengalungkan sebuah benda tajam di lehernya.
Dalam pikiran Iin berkecamuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Siapa dia? Malingkah? Apakah orang ini yang kemarin membuat suara langkah menakutkan di rumahnya? Belum terjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain datang dengan segera.
Duk, duk, duk, duk!” Tiba-tiba suara langkah menghampiri dari hadapan mereka. Kepanikan Iin sedikit mereda. Pikirnya, Aran mendengar keributan dan terbangun. Tetapi bukan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Suara itu sangat jelas, dan penglihatan mereka takkan berbohong, namun di tengah kegelapan yang samar-samar itu, tak seorang pun yang terlihat.  
Duk, duk, duk, duk!” Suara langkah itu terus menghampiri mereka. Terdengar berat dan perlahan, persis seperti malam kemarin. Jantung Iin berdegup dengan keras, membuat dadanya sakit. Tubuhnya menggigil hebat karena rasa takut. Dia menjerit sekeras-kerasnya namun teredam oleh tangan sosok tak dikenal yang menyergapnya.
Duk, duk, duk, duk!” Sekarang suara itu terdengar tepat berada di depannya. Jika saja makhluk itu bernapas, Iin tentu akan mendengar dan merasakan napasnya, atau itukah yang saat ini sedang dia rasakan?
Tiba-tiba saja jeritan Iin meledak dan bergema  ke seluruh ruangan. Iin sudah tak sanggup lagi mencerna kejadian-kejadian yang datang begitu cepat. Tangan dan tubuh yang tadi membungkam mulut dan menyangga badannya, tiba-tiba menghilang. Kakinya yang lemas dan lunglai membuatnya terhempas ke lantai. Sedangkan detik berikutnya, yang dia lihat hanyalah seisi ruangan yang menjadi kabur dan berganti dengan kegelapan.
***
“Jadi kamu diselamatkan oleh langkah misterius itu, ya?” tanya Julak Ayat pada Iin setelah keesokan harinya. Wajahnya serius, sedikit menakutkan.
Tidak lama setelah mendengar jeritan Iin, Aran bergegas mencari asal jeritan itu dan menemukan istrinya sedang terbaring di ruang tengah, pingsan. Ketika sadar, dengan terbata-bata Iin menceritakan kejadian yang mengerikan itu pada Aran dan ingin segera bertemu dengan Julak Ayat untuk menanyakan masalah itu, tapi mereka harus menunggu sedikit lebih lama sebelum kedatangan Julak Ayat dari luar kota.
Yah, mungkin.” Iin mengusap lehernya dengan gugup dan membalas tatapan Julak Ayat dengan kikuk. Sekarang mereka sudah berada di hadapan Julak Ayat dan menceritakan segalanya.
 “Saya sama sekali tak mengira jika itu adalah tindakan penyelamatan, memang tak terlihat seperti itu!”
“Dan dia memang tak terlihat, kan?” Aran nyeletuk.
“Dan orang yang menyelinap ke rumahmu, apakah kamu benar-benar yakin dia menghilang?” Julak Ayat kembali bertanya, tak percaya.
Keadaan hening. Iin tak berani memastikannya. Apakah orang itu raib begitu saja? Ataukah melarikan diri? Iin hanya merasakan keadaan yang tiba-tiba. Tiba-tiba saja orang itu tak ada lagi di belakangnya, tanpa adanya proses yang bisa dikenali sebagai upaya melarikan diri. Dengan begitu, kemungkinan dia menghilang lebih masuk akal. Walaupun itu lebih tak logis.
 “Entahlah, saya rasa demikian.”
Kening Julak Ayat berpaut, wajahnya begitu serius memikirkan misteri yang ada dihadapannya. Kemudian dia berpaling ke arah Iin, mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun entah kenapa, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya dan kembali menunduk.
“Ada apa, Lak? Sepertinya tadi Julak ingin mengatakan sesuatu.” Aran menangkap gelagat aneh pria tua itu.
Iin menoleh pada Julak Ayat, “Jika Julak mengetahui sesuatu, sebaiknya Julak katakan pada kami.”
Julak Ayat kembali membuka mulutnya namun tak ada suara yang keluar, yang tampak hanya wajah penuh beban. “Ini mengenai kakekmu!” Akhirnya kata-kata itu berhasil diucapkan.
“Ada apa dengan kakek saya?”
“Seharusnya rahasia ini, dia katakan sendiri pada kalian. Tapi entah mengapa, dia terus bungkam hingga maut benar-benar mengunci mulutnya. Atau mungkin semua itu karena kedatangan maut benar-benar tak terduga.”
“Saya tak mengerti apa yang Julak ucapkan. Rahasia apa yang Julak maksud? Saya mohon, jangan menambah misteri lain untuk membebani pikiran kami!” Aran tak tahan dengan rasa penasarannya.
“Mungkin kamu tidak tahu, sejak masih sangat muda, kakekmu sangat tertarik dengan berbagai macam ilmu kebatinan. Dia berpetualang hingga ke pelosok pedalaman untuk mengumpulkan ilmu-ilmu itu atau hanya untuk menambah pengetahuannya mengenai ilmu tertentu. Hingga suatu ketika, kampung kami diteror oleh perampok yang sangat kejam. Tidak hanya merampas harta benda orang yang dirampoknya, dia juga tak segan-segan merenggut nyawa orang itu. Sudah banyak yang menjadi korbannya. Keamanan masyarakat kami terancam. Sedangkan perlawanan hanya sebatas bisik-bisik dari satu kuping ke kuping yang lain.”
“Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam benak kakekmu, saat dia mengatakan dia akan turun tangan untuk mengatasi masalah itu. Apakah kakekmu ingin jadi pahlawan, dengan tujuan yang mulia, ingin menyelamatkan nyawa orang banyak atau hanya ingin menjajal kemampuannya, yang sedikit banyak hanya berdasarkan dorongan hasratnya semata.”
“Sebelumnya, kalian boleh tidak percaya dengan peristiwa yang akan kuceritakan ini, karena kalian hanya akan mendengarnya dari mulutku seorang. Akulah yang menjadi saksi malam berdarah itu. Saat dimana kakekmu, Iras, mencegat perampok kejam yang menteror kampung kami di tepi persawahan. Dengan parangnya, dia menebas tubuh perampok itu, tapi itu hanya membuktikan bahwa perampok itu bertubuh kebal seperti yang dikatakan orang-orang kampung. Setelah itu, mereka saling tebas tanpa seorang pun yang terluka. Menyaksikan kejadian itu, seperti melihat dua manusia abadi yang berkelahi hingga akhir waktu. Melelahkan sekaligus mendebarkan.”
“Kalian boleh menyebut aku teman yang bodoh karena tak tahu apapun tentang kemampuan temanku sendiri. Aku benar-benar tak punya petunjuk mengapa Iras begitu percaya diri menantang perampok beringas itu. Aku hanya berharap Iras punya jurus pamungkas untuk menghabisinya, karena jika Iras kalah, tentulah aku yang akan menjadi korban berikutnya.”
“Sudah cukup lama waktu berlalu, aku terus memandangi dua orang kebal itu saling bacok dan saling tusuk sampai tenaga mereka habis. Tapi sepertinya tenaga mereka tak ada habis-habisnya. Aku hampir saja didera kebosanan, namun  tiba-tiba parang Iras berhasil menembus tubuh perampok itu. Aku masih kebingungan dengan apa yang kulihat, sepertinya ada banyak hal yang kulewatkan ketika aku berkedip. Perampok itu mengerang memecahkan keheningan malam kemudian terhempas ke tanah.”
“Aku bersorak menyambut kemenangan Iras, aku tak pernah sebahagia itu melihat orang tewas dibunuh di hadapanku. Kebahagiaan itu memang terasa ganjil. ‘Aku tahu kamu pasti punya jurus pamungkas untuk mengalahkan perampok itu’ jeritku pada Iras sambil berlari menghampirinya. Saat itu dia berjongkok di samping mayat perampok itu, dan saat itu barulah aku sadar bahwa perampok itu masih hidup. Benar-benar hidup. Dia menatapku dengan matanya yang memohon pertolongan. Ada kekuatan aneh yang membuatnya seperti membeku. Mungkin kekuatan Iras.”
“Iras meraih pisau yang terselip di pinggangnya, kemudian dengan keadaan perampok itu masih bernapas dan menatapku, dia merobek dada perampok itu dengan beringas. Perasaan dingin yang ganjil menyelimutiku. Tatapanku terpaku pada mata pria itu. Bisu namun kudengar menjerit begitu keras. Aku menutup telingaku rapat-rapat tapi masih kudengar jeritan mengerikan itu, mungkin dari kepalaku sendiri. ‘Iras, apa yang kau lakukan?’ jeritku. Iras menyeringai, wajahnya seperti iblis. Dia merenggut jantung perampok itu dari dadanya yang terbelah. Masih berdetak, seakan berontak. Iras mengiris kulit tipis jantung itu dan darah hitam pekat mengalir dari dalamnya. Dia meraih sebuah botol dari kantongnya dan menuangkan darah hitam itu hingga memenuhi botol itu. Aku tak sanggup melihat pemandangan itu. Perutku mual, tubuhku menggigil oleh rasa dingin yang ganjil, dan kakiku lemas, tak sanggup lagi menopang tubuhku. Kesadaranku seperti menguap dari tubuhku. Dan malam itu, hal terakhir yang kulihat adalah seringai Iras yang mengerikan dan tangannya yang mengangkat botol itu ke arahku. Setelah itu, semuanya berganti dengan kegelapan.”
“Aku tak tahu apa yang terjadi berikutnya. Aku terbangun di kamarku, di ranjangku. Kulihat Iras duduk di kursi, di samping ranjangku. Tersenyum. Senyum yang sudah biasa kulihat sejak aku kecil. Benar-benar biasa, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Kutanyakan apa yang terjadi semalam, tapi dia hanya menyuruhku untuk beristirahat. Bersikap baik, seperti biasanya. Dia berkata bahwa kampung kami saat itu sedang gempar karena salah seorang petani menemukan mayat yang mereka duga sebagai perampok yang selama ini meresahkan kampung kami. Dugaan itu muncul karena hasil rampokan yang ada di dekat mayat yang tewas secara mengenaskan itu, namun selebihnya mereka tak tahu apa-apa, mengapa perampok itu tewas, dan siapa yang melakukannya.”
“Dari kamarku, aku mendengar suara kerumunan orang di kejauhan yang penasaran dengan kejadian itu. Aku benar-benar ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu, apa yang dia lakukan pada darah dalam botol itu, mengapa dia melakukannya. Tapi dia bersikap seperti orang-orang dalam kerumunan itu, dia bersikap sepertiku, seperti orang yang tidak tahu dan tak mengerti apa-apa.”
“Sejak saat itu, terdengar bisik-bisik tentang keangkeran rumah Iras, tentang suara-suara langkah misterius, tapi tak ada yang tahu apa sebenarnya itu atau mengapa hal itu bisa terjadi. Tidak ada yang berani menanyakan langsung pada Iras, yang ada hanya bisik-bisik nyaring yang tak diperdulikan Iras. Aku pun tak bisa banyak membantu karena aku juga tak mengerti masalah ini, tapi paling tidak aku sudah memberikan sedikit pencerahan mengenai teka-teki itu untuk kalian pikirkan.”
Julak Ayat terdiam, dia mengusap keringat di keningnya dengan gelisah. Dia menatap wajah bingung Iin. Ada satu hal yang dia tak berani beritahukan pada pasangan suami istri di hadapannya. Hal yang bisa memicu kemunculan suara langkah misterius itu. Dari hasil pengamatannya selama ini, suara langkah itu hanya muncul jika ada seseorang yang berniat jahat dalam rumah itu. Pada malam kedua tentulah niat jahat seseorang tak dikenal yang diduga maling itulah yang memicu kemunculannya. Namun pada malam pertama? Sepertinya tak mungkin orang tak dikenal itu datang dua hari berturut-turut. Bagaimana jika Iinlah yang memiliki niat jahat? Apapun itu, mungkin lebih baik daripada hal yang ditakutkannya. Dia takut makhluk yang menghuni darah itu sekarang bebas melakukan apa saja yang dia inginkan setelah Iras tak lagi ada untuk mengendalikannya. Dia takut makhluk itu menyimpan dendam pada Iras dan ingin membalaskannya pada cucunya, Iin. Yang jelas, darah itu kini tak lagi bertuan. 
***
Sesampainya di rumah tua milik kakeknya yang angker itu, Iin termenung sendirian di ruang tamu. Aran entah ada dimana, Iin juga tak peduli. Iin sibuk memikirkan kejadian di masa lalu yang diceritakan oleh Julak Ayat kepadanya dan suaminya. Antara percaya dan tak percaya, karena apa yang didengarnya selama ini dari orang-orang di sekitarnya jauh berbeda dengan pengakuan Julak Ayat tentang kakeknya itu. Paling tidak, Iin mengenal kakeknya sebagai manusia biasa yang tak ada kaitannya dengan dunia mistis.
Darah itu … Pikiran Iin menyoroti objek yang paling misterius dari kejadian itu. Untuk apa darah itu? Dan apa motivasi kakeknya melakukan itu? Sebenarnya percuma saja bertanya, toh satu-satunya orang yang mengetahui jawabannya sudah meninggal. Pertanyaan yang tersisa dan lebih pantas untuk ditanyakan hanyalah dimana darah itu sekarang? Ketika membenahi rumah ini, dia dan Aran tak menemukan ada botol berisi cairan aneh. Mungkinkah kakeknya sudah menuangkan darah itu ke benda lain? Lalu dimana kakeknya menyembunyikannya? Mengingat pengaruh darah itu hanya terjadi di rumah ini, pasti kakeknya menyembunyikannya di dalam rumah. Apakah kakeknya menguburnya di bawah rumah? Sebaiknya dia mencari di tempat yang paling mudah dulu, seperti di loteng.
Iin segera mengambil tangga dan menempatkannya di bawah plafon di dapur, di sana ada semacam pintu untuk masuk ke loteng. Perlahan, Iin masuk dan menengokkan kepalanya ke dalam loteng itu. Di sana gelap dan berdebu, siang-siang seperti ini pun tempat itu terasa suram dan menyeramkan. Dia menyalakan senternya dan memberanikan diri masuk lebih jauh lagi. Dengan hati-hati, Iin melangkah di dalam loteng, berharap tempat yang dia injak tidak rubuh. Matanya menyusuri kemuraman loteng itu seirama dengan arah cahaya senternya. Beberapa kali dia dikejutkan oleh tikus dan kecoa yang berkeliaran di sekitar kakinya. Tidak lama kemudian, akhirnya dia sampai di tempat yang sepertinya merupakan tiang utama rumah itu, tiang yang pertama kali ditegakkan ketika rumah itu didirikan. Dan akhirnya, dia menemukannya.
  Iin terpana beberapa saat, dia menemukan botol itu terikat oleh seutas tali dan menggantung pada sebuah paku yang tertancap di tiang itu. Iin mendekat dan mencermatinya. Berusaha membuktikan apakah benar yang ada dalam botol itu sama dengan yang ada dalam pikirannya. Botol itu berisi cairan kental berwarna merah kehitam-hitaman. Mungkinkah ini darah? pikir Iin. Dia memegangnya dan terkejut, karena botol itu terasa hangat dan berdetak selayaknya jantung. Kenyataan bahwa darah di dalam botol itu masih cair setelah berpuluh-puluh tahun, merupakan bukti bahwa darah itu mengandung kekuatan magis, tak mengherankan jika darah itu diselimuti oleh hal-hal aneh lain.
Perasaan apa ini? Kegelapan seperti mengalungkan jemarinya di sekitar leher Iin dan berputar, membentuk sebuah pusaran, menghimpit tubuh Iin, membuatnya sulit bernapas. Di sudut matanya, cahaya retak dan jatuh serupa butiran-butiran kaca. Kakinya kehilangan tempat berpijak dan tubuhnya tersedot ke depan, ke dalam darah itu. Ada sebuah kekuatan yang memaksanya untuk memuntahkan seluruh isi hatinya. Seluruh rahasianya. Pikirannya dipaksa untuk mengingat masa lalu.
***
Dua bulan yang lalu
Tak lama setelah mereka menikah, Iin merasakan gejala kehamilan. Aran dan Iin segera memeriksakannya ke dokter untuk memusnahkan keraguan mereka. Dan ternyata benar, Iin sedang mengandung. Mereka terbuai oleh kebahagiaan. Terlampau bahagia malah. Terutama Iin. Angan-angannya sudah mengembara ke langit ke tujuh, membayangkan dia menggendong bayi mungil nan imut. Tapi itu tak berlangsung lama.
Aran pulang dari tempat kerjanya dengan wajah yang murung dan sikap yang gelisah. Iin menghampirinya dengan kepedulian seorang istri. Menanyakan keadaan suaminya, “Ada masalah apa?” Tapi Aran hanya diam, tak peduli dengan perhatian istrinya. Dia masuk ke kamar dan mengurung dirinya. Dari dalam kamar dia berteriak, “Jangan ganggu aku!” Iin tak mau memaksa jika suaminya tak mau mengatakan masalahnya, mungkin jika dia sudah tenang, dia akan bercerita dengan sendirinya.    
Iin kembali melipat pakaian di ruang keluarga. Tiba-tiba ada suara benda pecah di dapur. Iin segera memeriksanya. Ternyata hanya seekor kucing yang menyenggol gelas di atas meja. Iin bernapas lega. Dia berbalik dan terkejut melihat suaminya berdiri di belakangnya dengan wajah yang muram. Marah?
“Ada apa, Sayang?” bisiknya, sedikit takut dengan perangai suaminya.
“Tadi aku bilang jangan ganggu aku, aku sedang pusing! Tapi mengapa kamu dengan begitu ceroboh memecahkan gelas?” bentak Aran,
“Tapi bukan aku yang memecahkannya!”
Aran mendorong tubuh Iin dengan kasar hingga jatuh tersungkur di lantai, “Cukup! Aku sudah bosan dengan kebohongan!” bentaknya.
Aran berbalik dan meninggalkan Iin terbaring di lantai, entah mengapa perutnya terasa sakit sekali. Dia merasakan suatu cairan mengalir di sepanjang pahanya. Iin menyentuh cairan itu dan tersentak. Cairan itu darah. Iin keguguran.
***
Iin tersadar. Lepas dari pengaruh misterius darah itu. Segenap jiwanya terguncang. Seluruh badannya gemetar. Keringat membasahi badannya dan air mata mengalir deras di pipinya. Sejak kapan dia menangis? Dia tak lagi peduli.
Kejadian dalam ingatannya itu seperti baru saja terjadi. Darah itu rasanya masih mengalir dari perutnya, masih melekat di sela-sela jari tangannya yang gemetar. Rasa sakitnya juga masih terasa menusuk-nusuk perutnya.
Amarahnya kembali terbit. Mengapa Aran begitu bodoh? Mengapa Aran begitu ceroboh, hingga melupakan janin yang ada dalam rahimnya?
Sejak saat itu, masa-masa bahagia telah berakhir. Tak ada lagi kepedulian, kasih sayang, apalagi cinta, yang ada hanya kebencian. Ingin sekali Iin membalaskan rasa sakit hatinya. Namun, Iin tak tahu bagaimana cara menyiksa Aran dengan benar. Yang ada dalam pikiran Iin hanyalah membunuhnya, melenyapkan nyawanya secara instan.
Tiba-tiba saja, suara langkah misterius itu hadir lagi menyambut amarah dan keinginan membunuh Iin yang memuncak. “Duk, duk, duk, duk!” Perlahan seakan-akan ingin mengejutkannya. Iin memberanikan dirinya untuk menengok ke belakang. Seketika seberkas cahaya menyergap matanya.
“Mengapa kamu menangis, Sayang?” Suara yang dikenal Iin menghampiri gendang telinganya.
Ternyata yang datang itu Aran. Tadi dia mendengar suara terisak di loteng. Mulanya dia sedikit takut, dia kira ada kuntilanak muncul siang-siang. Tapi setelah dia tak menemukan Iin, dia curiga yang menangis di loteng itu adalah istrinya. Penasaran, dia memutuskan untuk memeriksanya.
“Bukan urusanmu!” bentak Iin, dia segera menghapus air mata di pipinya.
 Mata Aran menyoroti benda di hadapan Iin, “Apakah itu darah yang dimaksud Julak Ayat?”
Iin merenggut botol berisi darah itu dari tempatnya. Aran tersentak, “Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku harus membuangnya!”
“Mengapa dibuang?”
“Benda ini mungkin berbahaya!”
“Kakekmu tak mungkin membahayakan dirinya sendiri, darah itu untuk melindungi dirinya!”
“Tapi kakekku sudah meninggal, dan kita bukan siapa-siapa di sini!”
Aran mengerti maksud Iin. Dia terdiam. Iin menunggu keputusan Aran. “Aku tahu yang kau maksudkan, tapi aku berpikiran lain. Letakkan botol berisi darah itu kembali ke tempatnya!” kata Aran.
Sial. Tapi tak ada lagi yang bisa menghalangi niat Iin. Tak ada yang bisa menghalanginya untuk mencabut nyawa suaminya, malam ini. Tidak darah ini, tidak rasa takutnya. Dia sudah memutuskan.
Rembulan mengintip dari balik ventilasi. Sebilah pisau diacungkan tinggi-tinggi, berkilat, menghunus tubuh berselimut yang terlelap. Dadanya naik turun dengan tenang, tak menyadari apa yang terjadi.
Wanita yang memegang pisau itu tercekat. Dari balik punggungnya terdengar suara langkah, “Duk, duk, duk, duk!” Sangat dekat. Sangat perlahan, seakan-akan tak ingin melakukan apa yang akan dilakukannya.
Duk, duk, duk, duk!” Suara langkah itu sekarang tepat berada di belakangnya, tapi wanita itu tak peduli. Digenggamnya pisau itu erat-erat, bersiap menusuk tubuh di hadapannya. Namun tiba-tiba ada tangan yang menangkap tangan wanita itu, lalu suasana hening seketika
Banjarmasin, 1 Oktober 2011

HARI PALING NGE-BETE-IN


M. S. Nashrullah

Di antara kepulan asap knalpot taksi dan kendaraan–kendaraan lainnya yang meraung–raung di jalan raya, siswa–siswi SMA berderet membentuk barisan dalam naungan Halte yang teduh, anehnya mereka terlihat lebih rapi dibandingkan ketika upacara. Saat sebuah taksi menyinggahi mereka, sikut-menyikut tak bisa dihindari, seakan–akan taksi itu adalah satu–satunya di dunia. Sedangkan yang tak kebagian tempat, masih terus berceloteh dengan kelompoknya hingga taksi berikutnya datang membungkam mereka, tapi jika mereka berpikir bahwa mereka takkan kebagian tempat lagi, maka mereka akan kembali berceloteh.
Rossy dan Naira berusaha membelah barisan itu, namun tubuh gemuk di hadapan mereka bukanlah lawan yang bisa mereka singkirkan walaupun mereka berdua menyatukan kekuatan, sehingga mereka tersudut ke tiang Halte itu. “Jadi, bagaimana dengan rencanamu?“ tanya Naira dengan permen karet di mulutnya.
Rossy jadi terlihat bingung, “Rencanaku yang mana?“
“Dulu kau bilang padaku, tahun ini kau akan mulai membuka diri untuk menerima cowo berpacaran denganmu! Apa kau sudah lupa? Jangan sampai teman–teman menyangka kau lesbi, karena kemana–mana kau membuntutiku terus!“
“Tapi membuka diri untuk siapa? Agus? Yang masuk ke setiap kelas, kemudian nembak cewe yang disukainya di kelas itu, tapi kalau dia ditolak, dia pindah lagi ke kelas berikutnya dan nembak cewe berikutnya yang dia sukai? Menjijikkan!“
“Asal jangan masukkan nama Syaipul dari kelas bahasa ke dalam daftarmu. Pikirannya kotor sekali, jangan–jangan kamu hanya akan jadi pelampiasan hawa nafsunya. Cewe–cewe di kelasnya juga alergi sama dia!“
Eiuh! Jangan sampe deh, sama dia! ”
Tiba–tiba ada yang menyeruak ke dalam kerumunan itu, dan senyum Randy menyembul di antara bahu orang–orang. Pada mulanya, Randy menatap wajah Rossy, yang langsung trenyuh dibuatnya, tapi detik berikutnya, tatapan mata Randy berpaling ke arah Naira. Naira sih santai aja, udah ratusan kali dia ketemu sama Randy, mengapa kali ini harus berbeda dari biasanya. Tapi tatapan mata itu... membuat atmosfir berubah jadi kerasa aneh.
Eits, gila nih, kelihatannya Naira bentar lagi bakalan ditembak sama Randy! Kata-kata itu nyelonong masuk ke dalam benak anak–anak SMA itu, emang sih tidak ada yang wah dari diri Randy, apalagi menurut pandangan para pelajar yang skeptis, bahwa tidak ada cowo yang istimewa di sekolahan mereka. Tapi apa boleh buat, nyatanya survey membuktikan bahwa banyak banget yang suka sama Randy, walaupun data survey itu tidak dikaji secara serius melainkan hanya dari banyaknya cewe yang waktu ngobrol secara sepintas mengaku suka sama Randy. Jadi, ya ... pikiran skeptis itu hanya dimiliki oleh cowo yang gak laku aja.
Randy kelihatan kikuk, Naira akhirnya jadi deg–degan juga, permen karet yang ada di mulutnya, yang udah gak kerasa manis itu, hampir aja tertelan.  “Ada apa, Ran? “ tanya Naira,
 “Eh, anu nih ... gimana, ya?“
“Kamu gak pa–pa, kan?“
Ya... ada apa–apanya juga sih“
“ Maksud kamu apa sih? “
Kamu ... kamu mau gak jadi pacarku?“
Jutaan mulut (kalo mulut semut juga dihitung), jadi ternganga mendengar pernyataan Randy, sekarang semuanya pada khusyu’ menantikan jawaban Naira yang perasaannya jadi gak karuan, kayak diaduk ama blender. Naira pun sibuk garuk–garuk kepalanya, ampe kutu–kutunya jadi korban dan ketombenya berjatuhan. Sebenarnya dia udah lama memendam perasaan suka ama Randy, jadi ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, tapi untuk memenuhi unsur dramatis, dia bergaya mikir dulu, padahal dia takut juga kalo kelamaan, si Randy bisa berubah pikiran.
“Iya deh! Eh, maksudku ... ya ... aku mau coba pacaran ama kamu!“
Jawaban Naira itu langsung disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai dari para penonton. Gak ngerti juga kenapa mereka jadi begitu girang padahal dapat duit juga nggak. Yang pacaran Randy dan Naira, yang girang banget kok mereka. (Heran gue, padahal yang nulis gue!).      
Adegan–adegan yang terjadi kemarin (sekarang udah keesokan harinya) berseleweran dalam benak Rossy, seperti slide yang ditampilkan proyektor butut milik sekolahannya. Seiring dengan pergantian adegan dalam ingatannya itu, perasaannya juga semakin bertambah sakit, seakan–akan ada pisau tak terlihat dalam memorinya, yang menyayat hatinya. Tanpa disadarinya, air matanya sudah main kejar-kejaran di pipinya. Perasaan apa ini? Bentak Rossy pada dirinya sendiri. Seharusnya dia gembira, karena sahabatnya, Naira, sekarang pacaran sama kakak kelas mereka, yang sama-sama mereka kagumi. Tapi sepertinya, rasa kagum itu memiliki arti yang berbeda dalam hati Rossy. Entah sejak kapan, perasaan kagum itu berubah jadi rasa suka, dan mungkin... cinta.
Matahari pagi bersinar terik, membakar awan dan ilalang yang menari-nari dipermainkan angin. Setelah sepanjang waktu istirahat, dia habiskan di belakang laboraturium bahasa yang sepi, merenungi nasibnya, dia terpaksa kembali ke kelas karena suara lonceng sudah memanggil. Dan jadilah hari itu menjadi hari paling nge-bete-in sepanjang sejarah. Gimana ngga? Selama sisa waktu sekolah, si Naira nyerocos terus soal hari pertama dia pacaran ama Randy, ditambah lagi dengan nada bicara pak Hadi, guru mata pelajaran sejarah, yang mendayu-dayu, seperti musik keroncong tahun 80-an, lebih manjur dibandingkan obat tidur bahkan obat bius sekalipun. Waktu pak Hadi berceloteh tentang Adolf Hitler, Rossy berusaha melawan rasa ngantuknya dengan membayangkan kumis Hitler nongkrong di atas bibir Naira yang monyong kayak bibir Hitler lagi pidato. Agak mendingan, sih. Jadi seperti kata pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Bete hilang, ngantuk pun berkurang.
Detik-detik penuh perjuangan itu berakhir oleh suara lonceng yang bergema di sepanjang koridor. Mendengarnya, Rossy jadi pengen sujud syukur atau berteriak dan melompat setinggi-tingginya. Tapi tentu aja semua itu gak dilakukannya, soalnya kalo terlalu lebay malah dikira orang gila. Jadinya, dia hanya nyengir lebar-lebar, mengiringi kepergian pak Hadi dan lirikan Naira yang yang berpikir sohibnya udah gak waras.
Tapi sepertinya, hari paling nge-bete-in sepanjang sejarah itu, gak duduk manis di dalam kelas aja, malah ikutan keluar kelas. Mata Rossy terpaksa melihat Naira pulang sambil diboncengin Randy pake motornya. Naira pake dadah-dadah sambil ketawa-ketiwi segala lagi (sok kegirangan banget, sih!). “Entar sore, jangan lupa datang ke rumahku, ya!”. Rossy memukul dahinya sekuat tenaga (kalo ada palu, bisa-bisa dia pake palu juga tuh!), meratapi nasibnya. Ternyata hari paling nge-bete-in sepanjang sejarah itu memang sangat panjang dan melelahkan.
Waktu terus memutar detik-detik hingga akhirnya sampai pada waktu shalat ashar. Rossy berusaha memperlama shalat asharnya karena dia tahu setelah shalat, dia harus ke rumah Naira. Apalagi yang bakalan diceritain Naira? pikir Rossy, semakin resah aja. Walaupun diperlama, shalat itu akhirnya selesai juga, tapi dia kemudian juga memperlama waktu berdandannya. Selesai berdandan, dia bingung, apalagi yang bisa diperlama. Dia berjalan dari cermin menuju motornya yang ternyata telah raib bin gak ada. “Motor kemana, Mi?” tanya Rossy pada maminya. “Dipinjam Kakakmu! Tadi dia buru-buru jadi gak sempet bilang sama kamu!”.
“Lama, ya?”
“Kayaknya sih begitu!”
Rossy melompat seadanya, dan memukulkan tinjunya ke udara, sambil ketawa-ketawa. Maminya jadi ternganga, melihat anaknya kena gangguan jiwa. Motor dipinjam kakak, lalu gak bisa ke rumah Naira, eh malah jadi gila. Kasihan. Setelah mingkem, maminya jadi geleng-geleng kepala kayak orang lagi zikir. Rossy lekas-lekas menelpon sohibnya. Berharap pertemuan mereka gagal. 
“Halo, Nai?”
“Iya, Ross! Kenapa?”
“Aduh, sorry banget, ya! Kayaknya aku gak bisa ke rumah kamu, deh!”
What! Emangnya kenapa?”
“Motorku dipinjam kakakku, aku jadi gak bisa kemana-mana! Padahal aku pengen banget ketemuan ama kamu!” (sambil ngomong begitu, bibir Rossy jadi memble).
Oh, kamu so sweet banget, deh! Kebetulan Randy lagi ada di sini, nih! Gimana kalo dia yang jemput kamu?”
“Waduh, gak usah ampe ngerepotin gitu, dong!” (mampus nih gue, pikir Rossy).
“Gak ngerepotin, kok! Iya kan, sayang?” (sayup-sayup terdengar suara Randy menyahut, “Iya-iya, gak pa-pa, kok!”).
“Kamu tunggu aja, nanti Randy yang jemput kamu!”
Rossy terpaksa mengiyakan, pembicaraan pun selesai. Rossy dengan membabi buta, membenturkan kepalanya ke dinding. Maminya yang lagi menyapu di dekatnya jadi berteriak histeris, “Wah, anakku gila beneran!”
Tak lama kemudian Randy bener-bener datang ngejemput Rossy. Ngeliat Randy senyam-senyum di depan rumahnya, perasaan Rossy jadi deg-degan, tapi setelah ingat dia akan melihat Randy dan Naira bakalan bermesraan, jantungnya langsung rontok. Rossy naik ke atas motor Randy dengan khidmat, membayangkan yang dinaikinya itu adalah Randy (waw, porno nih!). “Kamu suka yang cepat ato yang santai?” tanya Randy, “Santai aja, dong!” jawab Rossy girang, padahal kalo terlalu lama berdekatan dengan Randy malah jantung Rossy yang berdetak secepat 150 km/jam.
Angin yang nakal mempermainkan perasaan Rossy, menghantarkan aroma tubuh Randy yang harum ke indera penciuman Rossy, sementara suara motor Randy terdengar seperti irama musik dangdut di telinganya (jadi pengen goyang gitu, deh!). Tapi tiba-tiba motor itu merusak suasana. Motor itu mogok dan dalam sekejap membuyarkan lamunan Rossy. “Astaga!” jerit Randy, “Ada apa, Ran?” rintih Rossy. “Kayanya mogok nih! Coba kuperiksa sebentar!” Cukup lama Randy mengotak-atik motornya, namun akhirnya berhenti dan memandang motornya dengan putus asa. “Wah, aku ga tau lagi harus gimana, nih!” Tapi Rossy merasa kurang yakin, pikirnya dia dikerjain, “Kamu becanda, kan?”
“Emangnya motorku keliatan becanda?”
Yah... Motor kamu emang butut, sih! Eh, maksudku aku ga ngerti soal motor!”
“Kalo ga salah, di sana ada bengkel, deh! Ke sana, yuk!”
“Jalan kaki?”
Jalan tangan! Ya, jalan kakilah!”
Cuaca saat itu cerah, kalo ga bisa dibilang terik. Randy mendorong motornya yang mogok dengan wajah merengut, sedangkan Rossy mengiringinya sambil menendang kerikil. Randy melirik Rossy sekilas, yang tertangkap basah oleh Rossy. Tiba-tiba Randy berdeham, untuk membersihkan tenggorokannya dengan gugup, semakin membuatnya mencurigakan (kayak orang yang berniat memperkosa gitu, deh! Duuh, Rossy jadi deg-degan!).
“Eeeeh, aku boleh ngomong sesuatu, ga?” kata Randy, dengan wajah kikuk.
“Ya, boleh, dong!” Rossy tambah penasaran. Randy membasahi bibirnya, lidahnya keluar masuk dengan gugup (kok jadi kayak komodo!). “Aku tidak tahu bagaimana tanggapanmu jika mendengar omonganku berikut ini, tapi percaya atau tidak, sebenarnya cewe yang kusukai itu kamu, bukan Naira!”
Benar juga kata Randy, dia ga bakalan tahu bagaimana perasaan Rossy mendengar ucapannya itu, bahkan Rossy pun selama beberapa detik merasa kebingungan, perasaan seperti apa yang seharusnya dia rasakan. Apakah tidak salah kalau dia merasa senang karena dia memang menyukai Randy, atau apakah dia sebaiknya marah karena Randy telah mempermainkan sahabatnya, atau jangan-jangan Rossy sendiri yang perasaannya sedang dipermainkan.
Rossy mendadak berhenti berjalan dan langsung memasang wajah seram, (kayak preman pasar!) “Maksud kamu apa sih, Ran?” bentak Rossy, “Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”
“Tentu saja tidak!”
“Jadi kamu mempermainkan perasaan Naira?”
“Tidak seperti itu juga!”
“Lalu apa maksud kamu, Ran? Aku tidak mengerti!”
Randy berkali-kali menelan ludahnya sampai mulutnya kering, menggaruk kepalanya sampai terlihat seperti menjambak rambutnya sendiri, mau membanting motornya tapi sayang. Memang segala yang dilakukannya jadi serba salah. Randy memberi isyarat agar mereka kembali berjalan. Dengan ogah-ogahan Rossy kembali mengiringi Randy.
“Eeeeeeeeeee...” Setelah ‘Eeeee’ yang panjang, Randy tetap saja tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membela dirinya, “Pokoknya kamu yang aku sukai, titik!” Akhirnya malah kata-kata itu yang keluar.
“Lalu kenapa kamu nembak Naira?”
“Mulanya aku memang berniat nembak kamu, tapi setelah liat kamu, aku gugup banget, padahal aku udah mempersiapkan diri berminggu-minggu! Aku sendiri tidak mengerti kenapa akhirnya aku nembak Naira! Mungkin karena dia orangnya lebih cuek!”
“Jadi kamu sengaja mengorbankan Naira, sahabatku?”
“Dia tidak seperti yang kamu pikirkan? Dia segera tahu perasaanku sebenarnya! Dia yang mengatakan bahwa kamu juga suka sama aku, tapi kamu belum menyadari betul perasaanmu itu, makanya dia manas-manasin kamu, dia ingin membuktikan bahwa dia benar!”
Wajah Rossy  memerah, “Kayaknya kamu ke-pede-an, deh!”
“Kamu boleh bilang aku ke-pede-an, atau orang aneh, soalnya ... ya, begitulah!”
“Memang aneh, kan? Kamu kan sudah sering pacaran, kenapa kamu masih gugup juga?”
“Karena aku tidak mencintai mereka! Perasaanku pada mereka biasa saja, baik nembak mereka, atau menduakan mereka, atau mutusin mereka, itu ga masalah! Tapi beda dengan kamu!”
“Bedanya?”
“Kayaknya jawabannya terlalu melankolis, deh! Atau mungkin terlalu aneh!”
“Ga pa-pa, kok! Santai aja!”
“Terhadap kamu? Kayaknya cinta itu tidak ada bedanya dengan rasa takut! Aku takut suatu hari aku mutusin kamu, aku takut suatu hari aku menduakan kamu, menyakiti perasaan kamu, atau kamu yang suatu hari menduakan aku! Aku selalu dipenuhi rasa curiga pada laki-laki yang ada di sekitar kamu! Itulah yang akhirnya membuat aku juga takut nembak kamu, kayaknya lebih baik tidak memilikimu daripada selalu ketakutan kehilangan kamu!”
“Lantas kenapa kamu beritahu aku?”
“Aku hanya ingin membebaskan diriku!”
“Kamu merasa bebas karena telah menyatakan perasaan kamu padaku, tapi bukankah sekarang aku yang merasa tidak tenang?”
“Kenapa tidak tenang? Bukankah kamu suka padaku dan sekarang kamu tahu kalau aku juga suka padamu!”
Rossy tersenyum, “Tapi kamu seram juga, ya! Ternyata kamu posesif!”
“Memang tidak baik, aku juga baru sadar!”
Romansa dua sejoli ini akhirnya harus terganggu oleh tatapan iri seorang montir bengkel. Randy menyerahkan sepeda motornya pada montir itu dan menyatakan keluhan-keluhannya. Sedangkan Rossy hanya memandangi langit yang mulai merona seperti pipinya saat ini. Dia pikir, sepertinya hari paling nge-bete-in sepanjang sejarah ini tidak terlalu buruk juga.
Gambut, 21-01-2011 

HANTU MASA LALU


M. S. Nashrullah
Suasana hening. Dina masih saja menatapku dengan tajam. Matanya bagaikan sebilah pedang yang menghunus jantungku. Entah kenapa aku merasa takut pada istriku sendiri. Dalam pikirannya ada sesuatu yang sedang bermain, sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku melihat itu dari matanya.
“Jika kamu tidak mau menceritakan padaku tentang masa laluku, bagaimana aku bisa sembuh!” Dia akhirnya kembali merengek di hadapanku, “Sembuh? Kamu tidak sakit, Sayang! Lupakan kata dokter, kehilangan ingatan adalah sebuah pembebasan, tidak semua memori itu indah dan baik dikenang, Sayang!” Aku beranjak dari meja makan, mata Dina masih mengintaiku dari belakang.
“Tidak indah? Tidak baik untuk dikenang? Memangnya apa yang terjadi di masa laluku?”
Aku berjalan dengan cepat menuju kamar. Dia mengikutiku, masih terus bertanya, sedikit membentak, dan menarik bajuku. Saat di kamar, dia juga mencoba masuk tapi kudorong dia keluar. Aku perlu menyendiri. Aku duduk di tepi ranjang, memandangi jendela yang seperti bingkai lukisan. Kabut tipis masih menyelimuti pohon-pohon pinus di samping rumahku.
Masih kudengar suara Dina dari balik pintu tapi tidak lama. Suaranya diakhiri dengan suara tendangan di pintu, kemudian terdengar suara langkah menjauh. Kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuhembuskan kuat-kuat, namun tak satupun beban pikiranku berkurang.
Dokter menyarankan agar aku mengajak istriku berlibur, memberi suasana tenang padanya. Dokter bilang kecelakaan yang menimpa kami telah merenggut sebagian besar ingatannya, dan tentu saja juga telah merenggut nyawa putri kami. Dokter itu juga menyarankan sebaiknya aku menceritakan tentang masa lalunya secara perlahan-lahan, apalagi tentang kematian putrinya, agar dia tidak terguncang. Tapi aku sama sekali tidak berniat memberitahukan masa lalunya. Jika tujuannya adalah agar dia tidak terguncang, sedih atau ketakutan, maka sebaiknya dia tidak mengetahui satu hal pun tentang masa lalunya.
Keadaan yang sunyi ini membuatku takut. Mungkin sebaiknya aku melihat apa yang dilakukan oleh Dina. Setelah keluar dari kamar, kulihat Dina sedang duduk di ruang tengah. Di pangkuannya, terbuka sebuah album foto. Dia membolak-balik  halaman album itu tanpa mengingat satu wajah pun.
Aku duduk di sampingnya, memeluknya dan mengecup keningnya, “Maafkan aku, Sayang!” kataku. Matanya, bagaikan sebilah pedang, menatap balik ke arahku, “Jika kamu tidak mau memberitahuku tentang masa laluku, maka aku akan mencarinya sendiri!” Kata-katanya dingin tapi aku tidak menyadari hal itu adalah sesuatu yang berbahaya.
***
Menjelang siang, matahari semakin terik, lebih daripada biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja? Aku berjalan sendirian dalam kepungan pohon-pohon pinus yang menjulang. Sengaja aku tidak mengajak Dina. Jika aku mengajaknya, tentu dia akan terus berusaha memancingku untuk menceritakan masa lalunya. Aku benar-benar ingin sendiri saat ini. Aku ingin melupakan masa lalu. Jauh dari Dina dan segalanya yang tidak aku suka.  
Aku punya seorang teman di tempat kerjaku. Seorang perempuan, Mona namanya. Dia pernah dengan sungguh-sungguh mengajakku pergi dari kehidupan yang membosankan ini. Memulai kehidupan yang baru. Bersamanya. Aku mengatakan aku punya seorang istri dan seorang putri. Dia tidak mau mengerti. Aku tak pernah menganggap hubungan kami serius, walaupun dia sebaliknya.
Memulai kehidupan baru...
Sejak itulah pikiran itu menjadi virus di otakku, walaupun aku tak pernah berniat memulainya bersama Mona. Tapi Dina takkan bisa mengerti, mengapa aku ingin meninggalkan dia, aku sendiri juga punya keterbatasan dalam menjelaskannya. Dia pikir kehidupan kami bahagia. Aku tak bisa menyalahkan dia jika berpikir seperti itu. Mungkin aku yang bermasalah. Aku bermain api dengan Mona sebagai pelarian dari sesuatu hal yang tidak aku mengerti. Tapi sama sekali tidak menyenangkan, malah membuatnya semakin rumit.
Tiba-tiba saja sepasang tupai mengejutkanku. Mereka lari terbirit-birit, menjauh dariku, kemudian memanjat sebuah pohon. Aku teringat pada Dina, sepertinya sudah terlalu lama aku pergi. Lagipula matahari sudah terlalu terik menyengat tengkukku.
Ketika sampai di depan pintu, aku mendengar Dina tertawa. Kupikir ada seseorang yang berkunjung. Tapi ketika aku masuk, tak ada seorang tamu pun di rumah. Aku menemukan Dina tersenyum ke arahku di ruang tengah. Di pangkuannya terbuka sebuah album foto. Entah mengapa aku merasa posisi duduknya aneh. Dia memiringkan tubuhnya seperti mendengarkan seseorang berbicara di sampingnya.
“Ada apa, Sayang?” kataku, Dia tidak segera menjawab, masih seperti mendengarkan sesuatu di sampingnya. Kemudian dia tersenyum dan menarik tanganku, memintaku duduk di sampingnya. Dia menceritakan semua peristiwa yang ada di dalam foto yang diperlihatkannya padaku. Aku terkejut bukan main, “Bagaimana kamu bisa mengetahuinya, Sayang?” Dina menempelkan telunjuknya ke bibirnya, “Katanya kamu belum boleh mengetahuinya!” Dia tersenyum geli. Aku semakin terkejut sekaligus takut, “Katanya?”
Terus terang saja, aku menjalani hari-hari berikutnya dengan rasa takut, Dina semakin sering mendengarkan suara di sampingnya itu. Kadang dia tersenyum lalu tertawa, kadang dia merasa cemas bahkan menangis. Pada awalnya, dengan wajah yang meyakinkan, dia bilang itu adalah suara hatinya. Namun kemudian dia mulai terus terang bahwa orang yang bersedia menceritakan masa lalunya itu adalah perempuan bernama Michelle. 
Mungkinkah-“ Aku tak berani melanjutkan pertanyaanku. Michelle yang kukenal adalah putri kami. Namun sepertinya yang ada dalam pikirannya berbeda, karena setiap kali membuka foto Michelle, dia sama sekali tidak menunujukkan bahwa itulah Michelle yang dimaksud, bahkan sepertinya dia sama sekali tidak mengenalinya.
“Apakah di dalam album foto ini ada yang bernama Michelle?” tanyaku, Dina menggeleng perlahan, terlihat ragu, “Tidak ada! Tapi aku tidak benar-benar tahu. Tidak semua masa laluku dia ungkapkan, katanya aku harus menunggu jika ingin mengetahui semua ingatanku!”
Aku merinding. Apakah dia itu hantu? “Apakah sebaiknya aku mengantarmu ke psikiater?” Sial, aku salah bicara. Dina menatapku, sepertinya dia tersinggung. “Bukankah kau yang bilang aku tidak sakit! Lagipula, biar bagaimanapun caranya, akhirnya aku mengetahui masa laluku! Seharusnya kamu senang!”
Aku sama sekali tidak senang.
“Kamu tidak mau memberitahukan masa laluku, mengapa? Sampai saat ini tidak ada masalah, kan?” 
Aku tidak menjawab. Aku hanya menelan air liurku. Tenggorokanku terasa kering.
Setelah itu, aku semakin fokus dan serius dalam mengawasi perubahan sikap Dina, tapi kelihatannya tidak ada yang berubah, hanya aku saja yang semakin ketakutan. Pernah suatu kali, aku pergi berbelanja sendirian, aku tak bisa mengajaknya pergi karena kelihatannya dia lebih suka mendengarkan suara hantu itu. Ketika aku pulang, aku menemukannya sedang bermain ayunan di samping rumah. Mungkin sedang mendengarkan suara hantu. Dia menatapku dengan curiga, tapi kemudian dia tersenyum, senyum yang tak bisa kuartikan maknanya.
Aku ingin minta bantuan, tapi tidak tahu harus menghubungi siapa. Akhirnya aku memutuskan untuk segera menghubungi dokter ahli jiwa. Dia mengatakan bahwa mungkin saja itu bukan hantu, mungkin saja itu adalah pikirannya sendiri. Keingintahuannya yang sangat besar terhadap masa lalunya, memancing ingatannya yang tersembunyi di alam bawah sadarnya muncul ke permukaan, namun ingatannya belum tersusun rapi sehingga  nama putrinya malah disandang oleh orang lain. Soal dia melihat atau mendengar seseorang dari ingatannya, sepertinya itu masih berhubungan dengan keingintahuannya terhadap masa lalunya itu. Dia perlu seseorang untuk memberitahunya, sedangkan aku tidak mau, namun keinginan itu sangat kuat dan menyebabkan dia berhalusinasi. Halusinasi itu sendiri dibentuk oleh alam bawah sadarnya yang mengambil wujud dan nama seseorang dari masa lalunya. Tapi dokter itu belum yakin dengan kebenaran teorinya, sangat jelas terdengar dari suaranya. Dia memintaku membawa Dina untuk pemeriksaan lebih lanjut, agar bisa memastikan keadaan yang sebenarnya.
Aku memutuskan hubungan telpon. Aku tidak mengerti apa yang dokter itu katakan, bahkan aku pikir dia juga tidak mengerti apa yang dia katakan. Dia hanya memberiku omong kosong. Aku juga tidak bisa membawa Dina untuk diperiksa. Dia pasti takkan mau, dan memaksanya, takkan mudah.  
***
Lalu lintas cukup lengang. Sepertinya populasi manusia telah banyak berkurang. Aku melirik ke samping. Dina kelihatannya sedang merenung, membelai rambut Michelle, putriku, yang duduk di samping Dina dan disibukkan oleh permen karet di mulutnya.
Aku menekan-nekan tombol radio di mobilku, mencari channel yang pas untuk suasana seperti ini. Suasana dimana istrimu sedang marah padamu dan kau tak bisa berbuat apa-apa. Tapi kelihatannya tak ada yang cocok, malah kelihatannya membuat Dina semakin kesal.
Aku mulai menjalankan mobil, tapi mendadak ada yang mengetuk kacanya. Ternyata Mona. Kupikir wanita ini memang sudah gila, apa dia tak tahu istriku ada di dalam mobil. Aku keluar dan menariknya ke belakang mobil, “Masalahmu apa, sih?” bentakku. Dia senyam-senyum, “Aku hanya minta diantar pulang!”
“Apa tak bisa diantar orang lain?”
“Tak bisa! Yang lain sedang sibuk!”
Hah, alasan konyol macam apa itu. Rupanya pertengkaran kami di luar, menyulut amarah Dina. Dia keluar dengan wajah tenang, kentara sekali sedang menahan amarahnya, “Ada apa, Bram?”
“Mona ingin diantarkan pulang, sedangkan kita tidak bisa, kan?”
Siapa bilang? Antarkan dia pulang!”
Aku bingung dan kesal, apalagi melihat wajah gembira Mona. Aku tahu dia merasa ingin menari-nari, terlihat dari caranya berjalan. Dia merasa dia telah menang, dan aku tak suka itu. Aku masuk ke dalam mobil, melihat wajah bingung Michelle, aku ingin sekali berkata bahwa aku juga sama bingungnya dengan dia. Tidak lama kemudian, mobilku melintas di jalan raya. Di tengah lalu lintas yang lengang, suasana di dalam mobil seperti kuburan dan Mona sebagai setannya.
Beberapa hari yang lalu, entah mengapa Mona menelpon ke rumahku, tapi pastinya secara tersirat dia ingin memberitahu Dina bahwa dia memiliki hubungan yang istimewa denganku. Mona berhasil. Dina menelan umpannya. Sejak itu Dina mulai marah-marah dan mempertanyakan bagaimana kehidupanku di kantor. Dia memaksakan dirinya untuk mengantar dan menjemputku dari kantor. Terus terang, agak memalukan. Teman-temanku bertanya mengapa istriku jadi overprotektif begitu, tentu saja aku menjawabnya dengan berbohong.
Rumah Mona lumayan jauh dari kantor, dan melewati jalan yang cukup sunyi. Aku melirik ke samping, Dina tidak menggunakan sabuk pengaman, aku ingin menegurnya tapi tiba-tiba wajah Mona menyembul dari jok belakang. Dia membicarakan hal-hal yang tidak penting, hanya ingin merusak suasana yang sudah seperti kuburan menjadi seperti neraka.
     Aku tidak memerdulikan omongannya, aku memandang lurus ke depan. Tidak jauh di depan kami, ada tikungan yang sangat tajam. Aku pernah melewatinya. Di samping tikungan itu ada jurang yang cukup curam, jika kita tidak hati-hati, kita bisa celaka.
Sesuatu terlintas di pikiranku, sesuatu tentang meninggalkan segalanya dan memulai kehidupan baru. Tapi beranikah aku? Jarak antara mobilku dengan mobil lain di belakang cukup jauh, sedangkan tepi jalan hanya dipenuhi oleh pohon-pohon bisu.
Aku harus berani mengambil resiko! Aku melepaskan sabuk pengaman dan meningkatkan kecepatan. Aku tak terlalu mendengarkan, tapi sepertinya Mona agak ketakutan dan menyarankan untuk mengurangi kecepatan. Ketika mobil mencapai tepi jurang, semua perempuan berteriak. Mona memaki dan mengumpat, Michelle menangis, sedangkan Dina, sekilas kulihat wajahnya memandangku dengan ngeri, sepertinya dia menangkap maksudku.
Tanpa latihan, tanpa rencana yang matang, sebenarnya kemungkinan aku selamat juga sangat kecil. Aku tak tahu, di saat seperti ini, agar aku selamat, apakah aku sebaiknya berdoa pada tuhan atau pada setan. Ketika bagian depan mobil melewati bibir jurang, aku membuka pintu mobil dan melompat keluar. Mona dan Dina secara bersamaan berusaha menarik pakaianku, tapi mereka tak cukup kuat, dan goncangan akibat benturan juga menolongku.
Aku berjumpalitan, seperti juga mobilku, tapi mobilku terlihat lebih mengerikan. Setelah aku berhenti berguling-guling di bebatuan dan hampir menabrak pohon, aku merasakan tubuhku penuh luka-luka, tapi aku masih hidup. Aku mendekati mobilku. Aku tak tahu apakah mobilku akan meledak seperti di film-film. Aku harus memastikan orang-orang di dalamnya sudah mati.
Kulihat Mona terjungkal ke depan, badannya penuh luka dan lehernya patah. Dina dan Michelle sepertinya meniru jurusku, mereka melompat dari mobil ketika mobil sedang berguling-guling, tapi sepertinya tidak seberuntung aku. Dalam pelukan ibunya, Michelle terlihat mengerikan, wajah dan tubuhnya penuh luka dan darah. Sedangkan Dina, aku tidak tahu apakah .... Aku memeriksa napas dan detak jantungnya. Ternyata dia masih hidup. Aku mencoba mencekiknya, tapi mobil yang tadinya berada cukup jauh di belakang mobilku telah sampai di tepi jurang. Mereka melihat mobilku meluncur masuk jurang, walaupun tak tahu yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka berlarian ke luar dari mobil dan menuruni jurang dengan hati-hati, “Hei, bagaimana keadaan di sana?” teriak seseorang di antara mereka. “Istriku masih hidup!” jeritku, berusaha agar tak terdengar seperti menyesalinya.      
Beberapa saat kemudian di rumah sakit, barulah kuketahui istriku hilang ingatan. Aku tak tahu apakah aku seharusnya merasa beruntung atau tidak.
***
Aku mondar-mandir di dalam kamar. Aku bingung, takut, menyesal, gelisah, sepertinya aku menghadapi jalan buntu. Apakah aku harus mencoba membunuh Dina sekali lagi, tapi jika begitu, bukankah semua tuduhan akan mengarah padaku, tak ada apapun di sini yang bisa dijadikan kambing hitam. Kami hanya berdua, jika Dina mati terbunuh, pastilah aku yang jadi tersangkanya. Apa bisa aku membuatnya seperti kecelakaan? Bagaimana kalau rumah ini kubakar? Tapi ahli forensik zaman sekarang pasti bisa mengetahui sebab kebakaran di rumah ini, bahkan mungkin dengan mudah.
Celah, aku harus menemukan celah. Bagaimana kalau aku pergi saja meninggalkan Dina, membiarkan dia hidup, tapi kalau ingatannya pulih? Dia akan melaporkan peristiwa kecelakaan itu sebagai tindakan yang disengaja dan akhirnya sama saja, aku akan ditangkap. Aku seperti menghadapi buah simalakama.
Kecelakaan mobil itu adalah rencana paling baik yang terpikirkan olehku, tapi mengapa Dina selamat?
  Sudahlah, lain kali aku pikirkan lagi, saat ini aku benar-benar buntu. Aku keluar dari kamar. Aku merasa rumah ini sangat sunyi. Biasanya juga sunyi, karena di rumah hanya ada aku dan Dina, tapi sekarang lebih sunyi dari biasanya, bahkan terasa mencekam.
Aku menemukan Dina sedang duduk di meja makan. Sekilas dia menatapku dengan pandangan marah, tapi detik berikutnya dia tersenyum. Mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi sekarang aku telah memutuskan jalan keluarnya.
 “Apakah hari ini Michelle menceritakan hal-hal yang baru padamu?” tanyaku, aku berjalan melewatinya dan mencium kepalanya. Di samping meja makan, di belakang Dina, adalah dapur dengan tetek bengeknya. Aku pura-pura mengambil cangkir, tapi tanganku perlahan membuka laci berisi pisau dan lain-lain.
“Ya, hari ini Michelle memberitahuku kejadian yang sangat penting!”
Aku merasa punggungku sakit sekali. Di laci, kulihat ada pisau yang hilang. Dina menggunakannya untuk menusukku. Aku berbalik menghadapi Dina, berusaha menangkap tangannya yang memegang pisau, tapi Dina terus saja menusuk tubuhku. Aku terjatuh ke lantai, tak berdaya. Darah yang merembes dari lubang-lubang di tubuhku, memenuhi lantai dapur.
Sakit sekali. Pandanganku berkunang-kunang. Dina terus menusukku dengan membabi buta, tapi aku tak sanggup lagi menjerit. Saat kurasakan jemari maut telah mencengkeram jiwaku, kulihat seseorang di belakang Dina.
Mona memperlihatkan taringnya yang runcing di sela senyumnya.
Sial, dia masih menungguku. Seharusnya aku tahu ...
Gambut, 27-01-2011