Kamis, 13 Oktober 2011

DARAH TAK BERTUAN


M. S. Nashrullah
Sebuah kendaraan berhenti di halaman salah satu rumah di pemukiman yang sepi. Dilihat seperti apapun, orang akan langsung tahu bahwa itu adalah rumah tua, terlebih karena bentuk atau model rumah itu, sedangkan kayu-kayu atau bagian rumah yang sudah termakan zaman, telah diganti dengan yang baru.
Pasangan suami istri yang yang mengendarai kendaraan itu terdiam sejenak, memandangi rumah tua di hadapan mereka. Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hati mereka ketika mereka meneliti seluk-beluk bentuk rumah itu. Perasaan penasaran, gelisah, terancam, dan perasaan lain yang tak bisa dimengerti dan tak seharusnya dipicu oleh sebuah rumah tua biasa. Mungkinkah ini bukan rumah tua biasa?
Aran menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan apa yang ada dalam pikirannya. Diam-diam dia melirik ke arah istrinya yang masih termenung di belakangnya. Jelas dia masih menyimpan amarah pada suaminya itu. Aran tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Rasa-rasanya dia sudah memperbaiki sikap, tapi sepertinya itu tak ada artinya.
“Ah, assalamu’alaikum!” Sebuah sapaan yang mengejutkan terdengar dari belakang mereka. Pasangan suami istri itu serentak menoleh ke belakang. Seorang pria tua yang kelihatan ramah sedang tersenyum kepada mereka. Dilihat dari pakaiannya, jelas dia adalah petani yang hendak pergi ke sawah. “Wa’alaikum salam!” sahut pasangan itu.
“Eee… kalian siapa, ya? Kenapa kalian mampir di rumah kosong ini?” tanya pria tua itu. Si istri menghampiri orang tua itu, “Perkenalkan, saya Iin, saya adalah cucu Kai Iras, dan itu adalah suami saya, Aran!”  
“Oh, aku mengerti sekarang! Jadi kalian yang akan menempati rumah ini sepeninggal kakekmu, ya?”
“Benar sekali! Itu sudah menjadi keputusan keluarga kami, mulai sekarang kami berdua yang akan menempati rumah ini!”
“Wah, kalau begitu kita akan menjadi tetangga! Aku adalah teman baik kakekmu, orang-orang di kampung ini memanggilku Julak Ayat. Rumahku persis di seberang rumah kalian! Yang itu…” Dia menunjuk sebuah rumah di belakangnya, “… kuharap kita bisa menjadi tetangga yang baik, yang bisa saling bantu-membantu.”
“Iya, saya harap juga demikian! Yang jelas, kami yang sangat memerlukan bantuan Julak, terutama untuk mengenal lingkungan dan orang-orang di kampung ini! Harap maklum, biasa orang baru, hahaha …”
“Hahaha …itu hal yang biasa! Ya, kalau begitu, sudah dulu, ya? Aku harus ke sawah dulu! Kalian juga tentu harus membenahi rumah itu, kan?”
“Iya, semoga sukses, Lak! Hahaha…”
“Hahaha … Iya, kalian juga!”
Julak Ayat terdiam sejenak memandangi rumah tua di depannya. Matanya hampa seperti menatap kekosongan. Garis-garis kerutan di wajahnya seperti alur sejarah yang kelam. Misterius. Di kejauhan, Aran bergidik melihat perangai orang tua itu. Kemudian Julak Ayat berlalu menuju sawahnya, sedangkan pasangan suami istri itu kembali dibalut kebisuan. Aran beranjak dari motornya dan berjalan mendahului istrinya menuju pintu rumah itu. Dia memasukkan kuncinya, memutarnya, dan membuka pintunya.
Debu langsung berlomba masuk ke dalam rongga pernapasan mereka. Aran segera menutup hidungnya dan mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar wajahnya, namun Iin yang sedang melamun, tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya dan langsung menjadi korban. Dia terbatuk-batuk dan bersin karena menghirup debu itu. Aran melihat kesempatan untuk menunjukkan kepeduliannya, “Sayang, kamu tidak apa-apa?” Tapi dia malah dicuekin. “Hah, padahal baru saja ditinggalkan tapi debunya seperti sudah seabad tidak dihuni!” Aran geram. Setelah itu, mereka sibuk membenahi rumah itu, masih dalam kebisuan.
Malam pun tiba. Mendung yang sepanjang hari menggantung di langit, akhirnya tak sanggup lagi menahan gerimis yang dikandungnya. Nuansa suram terlahir menyertai kedipan petir dan jeritannya yang mengejutkan, mewarnai malam yang muram. Jiwa-jiwa gelisah yang terkungkung dalam tubuh-tubuh lelah, mau tak mau harus menyerah pada rasa kantuk dan terlelap dalam buaian mimpi.
Dalam rumah tua, Aran menguap dan surut ke dalam selimutnya yang nyaman. Sekilas dia melirik Iin. Seharian dipasung kebisuan lebih melelahkan daripada membersihkan rumah ini. Bagaimana dengan besok? pikirnya, apakah hal ini akan terus berlanjut? Kalau begitu sampai kapan? Dia jadi takut bertemu dengan hari esok. Dia berusaha terus terjaga, namun dengan tiba-tiba, matanya terpejam dan dengan begitu, hari esok yang ditakutinya akan terbentang di hadapannya tanpa disadarinya.
Iin menghela napas panjang. Tubuhnya membelakangi suaminya. Gerimis, hawa dingin, dan mata yang lelah, seharusnya sudah dari tadi dia menyerah pada rasa kantuk. Namun hawa panas di dadanya ini… amarah
Dengkuran Aran sungguh mengganggu. Tak sedetik pun Iin terbebas dari rasa benci pada suaminya. Dia beranjak dari tempat tidur. Sebaiknya dia menjauh, bagaimanapun dia harus menaklukkan amarah ini. Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi.
Secercah cahaya lampu teras menyusup ke dalam kegelapan, cukup untuk membimbing langkah Iin. Sesekali petir juga meledak dan menampakkan seluruh ruangan. Gerimis membentuk sebuah simfoni yang tak merdu ketika membentur genteng dan pekarangan, menenggelamkan nyaris seluruh suara,  namun masih ada sedikit suara samar-samar yang terdengar, seperti suara langkah Iin.
Suara langkah…?
Iin merasa seperti mendengar suara langkah di belakangnya. Samar-samar. Apakah Aran mengikutinya? Dia menengok ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkinkah itu hanya gema langkahnya? Atau hanya perasaannya saja? Sedikit merinding, Iin memutuskan untuk tidak memikirkannya. Dia terus berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, dia menghela napas panjang. Dia tak tahu bagaimana memadamkan amarahnya ini, tapi paling tidak dia berusaha. Dia pernah dengar bahwa marah itu adalah api, jadi harus dipadamkan dengan air. Karena itu, dia berpikir sepertinya wudhu bisa menaklukan amarahnya. Iin memutar keran, dan memandangi air yang jatuh. Di luar, gerimis yang semarak sepertinya sudah mulai beranjak pergi.
Seiring lamunan Iin yang kembali terbit, dan kian jelasnya terdengar suara-suara yang sebelumnya tenggelam dalam rinai hujan, dia kembali mendengar suara langkah yang tadi membuatnya merinding. “Duk, duk, duk, duk!” Suara itu sangat jelas, tidak lagi samar-samar. Iin menajamkan pendengarannya. Dari suaranya, langkah itu berat dan perlahan. Menuju ke arah kamar mandi. Persis ke arah Iin.
Ah, paling hanya Aran! Pikirnya, namun entah kenapa dia tetap merinding mendengar suara itu. Dalam perasaan takut dia memaksa dirinya berwudhu. “Duk, duk, duk, duk!” Suara itu terus mendekat. “Duk, duk, duk, duk!” Sekarang suara itu terdengar tepat berada di depan pintu kamar mandi.
Aran?” Rasa takut mendesak suaranya untuk keluar, tapi tak ada jawaban. Suara itu malah terhenti begitu saja. Keadaan pun hening seketika. Iin segera membuka pintu, “Ar-“ Suaranya terhenti di tenggorokan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Mustahil.
Iin cepat-cepat lari ke kamarnya. Pasti aku dikerjai Aran! Pikirnya, tapi yang terjadi benar-benar di luar dugaannya. Aran masih tertidur di ranjang. Mendengkur. “Aran! Bangun! Yang tadi itu kamu, kan?” Iin mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Aran berbalik. Matanya merah dan wajahnya terlihat menakutkan, seperti ingin menelan Iin hidup-hidup.
***
Haaah, paling-paling kakekmu jadi hantu!” bentak Aran, masih jengkel karena dibangunkan tadi malam. “Kalau bicara itu hati-hati, jangan sembarangan!” balas Iin. “Aku tidak sembarangan! Ada suara langkah yang menakutkan, bukan aku yang melakukannya, apalagi kamu, dan kakekmu baru saja meninggal! Itu masuk akal, kan?” Iin memukul bahu Aran, “Aku tak suka mendengar omonganmu!”
Ya, sudahlah! Maaf! Aku mau pergi kerja dulu, kamu tidak apa-apa, kan? Sendirian di rumah? Kalau kamu mendengar suara itu lagi, kamu langsung saja hubungi aku, supaya aku tak usah pulang, aku juga takut!” Aran melenggang pergi. Iin cuek. Tidak peduli.
Rencananya hari ini Iin hendak menanyakan kejadian yang dialaminya pada Julak Ayat, namun ketika dia mengetuk pintu rumahnya, tidak ada orang yang keluar. Rumahnya memang terlihat sepi. Kata tetangga yang lain, Julak Ayat sedang pergi ke luar kota, memenuhi undangan keluarganya yang menikah.
Iin hendak bertanya pada tetangganya itu yang bernama Acil Liha, tapi dia tidak akrab dengan wanita itu. Julak Ayatlah yang menawarkan bantuan pada Iin, hingga dia merasa wajar jika dia berkeluh kesah pada Julak Ayat yang juga mengaku berteman baik dengan kakeknya. Lagipula, jika Acil Liha berpikiran macam-macam seperti Aran dan menyebarkan pendapatnya itu pada tetangga-tetangga yang lain, Iin takut nama baik kakeknya akan rusak. Akhirnya, Iin kembali ke rumah tanpa satu pun petunjuk untuk memecahkan misteri itu.
Setelah itu, hampir seharian dia disibukkan dengan urusan rumah tangganya, hingga waktu kembali menjemput sang malam. Tidak seperti malam kemarin, malam ini langit bersih. Bintang-bintang bagai berlian yang berserakan di hamparan permadani malam, dan bulan purnama memandangi bumi dengan wajahnya yang pucat pasi.
Aran sudah cukup lama mendengkur, sedangkan Iin masih saja gelisah. Dia kembali tidak bisa tidur. Apalagi dia merasa ingin ke kamar kecil. Namun dia takut kejadian seperti semalam terulang lagi. Takut misteri yang belum terpecahkan itu hadir lagi dan benar-benar membuatnya gila. Setelah cukup lama menahan keinginannya, akhirnya dia tidak kuat lagi dan menyerah pada keputusan untuk menghadapi rasa takutnya itu.
Perlahan, Iin membuka pintu kamarnya. Menengok keluar dan memastikan tidak ada apa-apa. Dia merinding. Sebelum rasa takutnya semakin memuncak, dia berlari menuju toilet.
Akhirnya, dia keluar dari toilet dengan perasaan lega luar biasa. Tapi hatinya kembali dibekuk oleh rasa takut. Di hadapannya terbentang kegelapan yang suram. Bulan purnama dan lampu teras hanya memberikan cahaya samar-samar, dan seluruh ruangan dipenuhi oleh bayangan yang membeku.
Ah, apa itu? Iin tercekat, matanya sekilas menangkap gerakan dalam bayangan sebuah lemari di sampingnya, dan detik berikutnya sosok hitam menyergapnya tanpa memberinya waktu untuk mencerna apa sebenarnya yang sedang terjadi. Sosok itu mengunci lengannya dan membungkam mulutnya. Sosok itu juga mengalungkan sebuah benda tajam di lehernya.
Dalam pikiran Iin berkecamuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Siapa dia? Malingkah? Apakah orang ini yang kemarin membuat suara langkah menakutkan di rumahnya? Belum terjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain datang dengan segera.
Duk, duk, duk, duk!” Tiba-tiba suara langkah menghampiri dari hadapan mereka. Kepanikan Iin sedikit mereda. Pikirnya, Aran mendengar keributan dan terbangun. Tetapi bukan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Suara itu sangat jelas, dan penglihatan mereka takkan berbohong, namun di tengah kegelapan yang samar-samar itu, tak seorang pun yang terlihat.  
Duk, duk, duk, duk!” Suara langkah itu terus menghampiri mereka. Terdengar berat dan perlahan, persis seperti malam kemarin. Jantung Iin berdegup dengan keras, membuat dadanya sakit. Tubuhnya menggigil hebat karena rasa takut. Dia menjerit sekeras-kerasnya namun teredam oleh tangan sosok tak dikenal yang menyergapnya.
Duk, duk, duk, duk!” Sekarang suara itu terdengar tepat berada di depannya. Jika saja makhluk itu bernapas, Iin tentu akan mendengar dan merasakan napasnya, atau itukah yang saat ini sedang dia rasakan?
Tiba-tiba saja jeritan Iin meledak dan bergema  ke seluruh ruangan. Iin sudah tak sanggup lagi mencerna kejadian-kejadian yang datang begitu cepat. Tangan dan tubuh yang tadi membungkam mulut dan menyangga badannya, tiba-tiba menghilang. Kakinya yang lemas dan lunglai membuatnya terhempas ke lantai. Sedangkan detik berikutnya, yang dia lihat hanyalah seisi ruangan yang menjadi kabur dan berganti dengan kegelapan.
***
“Jadi kamu diselamatkan oleh langkah misterius itu, ya?” tanya Julak Ayat pada Iin setelah keesokan harinya. Wajahnya serius, sedikit menakutkan.
Tidak lama setelah mendengar jeritan Iin, Aran bergegas mencari asal jeritan itu dan menemukan istrinya sedang terbaring di ruang tengah, pingsan. Ketika sadar, dengan terbata-bata Iin menceritakan kejadian yang mengerikan itu pada Aran dan ingin segera bertemu dengan Julak Ayat untuk menanyakan masalah itu, tapi mereka harus menunggu sedikit lebih lama sebelum kedatangan Julak Ayat dari luar kota.
Yah, mungkin.” Iin mengusap lehernya dengan gugup dan membalas tatapan Julak Ayat dengan kikuk. Sekarang mereka sudah berada di hadapan Julak Ayat dan menceritakan segalanya.
 “Saya sama sekali tak mengira jika itu adalah tindakan penyelamatan, memang tak terlihat seperti itu!”
“Dan dia memang tak terlihat, kan?” Aran nyeletuk.
“Dan orang yang menyelinap ke rumahmu, apakah kamu benar-benar yakin dia menghilang?” Julak Ayat kembali bertanya, tak percaya.
Keadaan hening. Iin tak berani memastikannya. Apakah orang itu raib begitu saja? Ataukah melarikan diri? Iin hanya merasakan keadaan yang tiba-tiba. Tiba-tiba saja orang itu tak ada lagi di belakangnya, tanpa adanya proses yang bisa dikenali sebagai upaya melarikan diri. Dengan begitu, kemungkinan dia menghilang lebih masuk akal. Walaupun itu lebih tak logis.
 “Entahlah, saya rasa demikian.”
Kening Julak Ayat berpaut, wajahnya begitu serius memikirkan misteri yang ada dihadapannya. Kemudian dia berpaling ke arah Iin, mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun entah kenapa, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya dan kembali menunduk.
“Ada apa, Lak? Sepertinya tadi Julak ingin mengatakan sesuatu.” Aran menangkap gelagat aneh pria tua itu.
Iin menoleh pada Julak Ayat, “Jika Julak mengetahui sesuatu, sebaiknya Julak katakan pada kami.”
Julak Ayat kembali membuka mulutnya namun tak ada suara yang keluar, yang tampak hanya wajah penuh beban. “Ini mengenai kakekmu!” Akhirnya kata-kata itu berhasil diucapkan.
“Ada apa dengan kakek saya?”
“Seharusnya rahasia ini, dia katakan sendiri pada kalian. Tapi entah mengapa, dia terus bungkam hingga maut benar-benar mengunci mulutnya. Atau mungkin semua itu karena kedatangan maut benar-benar tak terduga.”
“Saya tak mengerti apa yang Julak ucapkan. Rahasia apa yang Julak maksud? Saya mohon, jangan menambah misteri lain untuk membebani pikiran kami!” Aran tak tahan dengan rasa penasarannya.
“Mungkin kamu tidak tahu, sejak masih sangat muda, kakekmu sangat tertarik dengan berbagai macam ilmu kebatinan. Dia berpetualang hingga ke pelosok pedalaman untuk mengumpulkan ilmu-ilmu itu atau hanya untuk menambah pengetahuannya mengenai ilmu tertentu. Hingga suatu ketika, kampung kami diteror oleh perampok yang sangat kejam. Tidak hanya merampas harta benda orang yang dirampoknya, dia juga tak segan-segan merenggut nyawa orang itu. Sudah banyak yang menjadi korbannya. Keamanan masyarakat kami terancam. Sedangkan perlawanan hanya sebatas bisik-bisik dari satu kuping ke kuping yang lain.”
“Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam benak kakekmu, saat dia mengatakan dia akan turun tangan untuk mengatasi masalah itu. Apakah kakekmu ingin jadi pahlawan, dengan tujuan yang mulia, ingin menyelamatkan nyawa orang banyak atau hanya ingin menjajal kemampuannya, yang sedikit banyak hanya berdasarkan dorongan hasratnya semata.”
“Sebelumnya, kalian boleh tidak percaya dengan peristiwa yang akan kuceritakan ini, karena kalian hanya akan mendengarnya dari mulutku seorang. Akulah yang menjadi saksi malam berdarah itu. Saat dimana kakekmu, Iras, mencegat perampok kejam yang menteror kampung kami di tepi persawahan. Dengan parangnya, dia menebas tubuh perampok itu, tapi itu hanya membuktikan bahwa perampok itu bertubuh kebal seperti yang dikatakan orang-orang kampung. Setelah itu, mereka saling tebas tanpa seorang pun yang terluka. Menyaksikan kejadian itu, seperti melihat dua manusia abadi yang berkelahi hingga akhir waktu. Melelahkan sekaligus mendebarkan.”
“Kalian boleh menyebut aku teman yang bodoh karena tak tahu apapun tentang kemampuan temanku sendiri. Aku benar-benar tak punya petunjuk mengapa Iras begitu percaya diri menantang perampok beringas itu. Aku hanya berharap Iras punya jurus pamungkas untuk menghabisinya, karena jika Iras kalah, tentulah aku yang akan menjadi korban berikutnya.”
“Sudah cukup lama waktu berlalu, aku terus memandangi dua orang kebal itu saling bacok dan saling tusuk sampai tenaga mereka habis. Tapi sepertinya tenaga mereka tak ada habis-habisnya. Aku hampir saja didera kebosanan, namun  tiba-tiba parang Iras berhasil menembus tubuh perampok itu. Aku masih kebingungan dengan apa yang kulihat, sepertinya ada banyak hal yang kulewatkan ketika aku berkedip. Perampok itu mengerang memecahkan keheningan malam kemudian terhempas ke tanah.”
“Aku bersorak menyambut kemenangan Iras, aku tak pernah sebahagia itu melihat orang tewas dibunuh di hadapanku. Kebahagiaan itu memang terasa ganjil. ‘Aku tahu kamu pasti punya jurus pamungkas untuk mengalahkan perampok itu’ jeritku pada Iras sambil berlari menghampirinya. Saat itu dia berjongkok di samping mayat perampok itu, dan saat itu barulah aku sadar bahwa perampok itu masih hidup. Benar-benar hidup. Dia menatapku dengan matanya yang memohon pertolongan. Ada kekuatan aneh yang membuatnya seperti membeku. Mungkin kekuatan Iras.”
“Iras meraih pisau yang terselip di pinggangnya, kemudian dengan keadaan perampok itu masih bernapas dan menatapku, dia merobek dada perampok itu dengan beringas. Perasaan dingin yang ganjil menyelimutiku. Tatapanku terpaku pada mata pria itu. Bisu namun kudengar menjerit begitu keras. Aku menutup telingaku rapat-rapat tapi masih kudengar jeritan mengerikan itu, mungkin dari kepalaku sendiri. ‘Iras, apa yang kau lakukan?’ jeritku. Iras menyeringai, wajahnya seperti iblis. Dia merenggut jantung perampok itu dari dadanya yang terbelah. Masih berdetak, seakan berontak. Iras mengiris kulit tipis jantung itu dan darah hitam pekat mengalir dari dalamnya. Dia meraih sebuah botol dari kantongnya dan menuangkan darah hitam itu hingga memenuhi botol itu. Aku tak sanggup melihat pemandangan itu. Perutku mual, tubuhku menggigil oleh rasa dingin yang ganjil, dan kakiku lemas, tak sanggup lagi menopang tubuhku. Kesadaranku seperti menguap dari tubuhku. Dan malam itu, hal terakhir yang kulihat adalah seringai Iras yang mengerikan dan tangannya yang mengangkat botol itu ke arahku. Setelah itu, semuanya berganti dengan kegelapan.”
“Aku tak tahu apa yang terjadi berikutnya. Aku terbangun di kamarku, di ranjangku. Kulihat Iras duduk di kursi, di samping ranjangku. Tersenyum. Senyum yang sudah biasa kulihat sejak aku kecil. Benar-benar biasa, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Kutanyakan apa yang terjadi semalam, tapi dia hanya menyuruhku untuk beristirahat. Bersikap baik, seperti biasanya. Dia berkata bahwa kampung kami saat itu sedang gempar karena salah seorang petani menemukan mayat yang mereka duga sebagai perampok yang selama ini meresahkan kampung kami. Dugaan itu muncul karena hasil rampokan yang ada di dekat mayat yang tewas secara mengenaskan itu, namun selebihnya mereka tak tahu apa-apa, mengapa perampok itu tewas, dan siapa yang melakukannya.”
“Dari kamarku, aku mendengar suara kerumunan orang di kejauhan yang penasaran dengan kejadian itu. Aku benar-benar ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu, apa yang dia lakukan pada darah dalam botol itu, mengapa dia melakukannya. Tapi dia bersikap seperti orang-orang dalam kerumunan itu, dia bersikap sepertiku, seperti orang yang tidak tahu dan tak mengerti apa-apa.”
“Sejak saat itu, terdengar bisik-bisik tentang keangkeran rumah Iras, tentang suara-suara langkah misterius, tapi tak ada yang tahu apa sebenarnya itu atau mengapa hal itu bisa terjadi. Tidak ada yang berani menanyakan langsung pada Iras, yang ada hanya bisik-bisik nyaring yang tak diperdulikan Iras. Aku pun tak bisa banyak membantu karena aku juga tak mengerti masalah ini, tapi paling tidak aku sudah memberikan sedikit pencerahan mengenai teka-teki itu untuk kalian pikirkan.”
Julak Ayat terdiam, dia mengusap keringat di keningnya dengan gelisah. Dia menatap wajah bingung Iin. Ada satu hal yang dia tak berani beritahukan pada pasangan suami istri di hadapannya. Hal yang bisa memicu kemunculan suara langkah misterius itu. Dari hasil pengamatannya selama ini, suara langkah itu hanya muncul jika ada seseorang yang berniat jahat dalam rumah itu. Pada malam kedua tentulah niat jahat seseorang tak dikenal yang diduga maling itulah yang memicu kemunculannya. Namun pada malam pertama? Sepertinya tak mungkin orang tak dikenal itu datang dua hari berturut-turut. Bagaimana jika Iinlah yang memiliki niat jahat? Apapun itu, mungkin lebih baik daripada hal yang ditakutkannya. Dia takut makhluk yang menghuni darah itu sekarang bebas melakukan apa saja yang dia inginkan setelah Iras tak lagi ada untuk mengendalikannya. Dia takut makhluk itu menyimpan dendam pada Iras dan ingin membalaskannya pada cucunya, Iin. Yang jelas, darah itu kini tak lagi bertuan. 
***
Sesampainya di rumah tua milik kakeknya yang angker itu, Iin termenung sendirian di ruang tamu. Aran entah ada dimana, Iin juga tak peduli. Iin sibuk memikirkan kejadian di masa lalu yang diceritakan oleh Julak Ayat kepadanya dan suaminya. Antara percaya dan tak percaya, karena apa yang didengarnya selama ini dari orang-orang di sekitarnya jauh berbeda dengan pengakuan Julak Ayat tentang kakeknya itu. Paling tidak, Iin mengenal kakeknya sebagai manusia biasa yang tak ada kaitannya dengan dunia mistis.
Darah itu … Pikiran Iin menyoroti objek yang paling misterius dari kejadian itu. Untuk apa darah itu? Dan apa motivasi kakeknya melakukan itu? Sebenarnya percuma saja bertanya, toh satu-satunya orang yang mengetahui jawabannya sudah meninggal. Pertanyaan yang tersisa dan lebih pantas untuk ditanyakan hanyalah dimana darah itu sekarang? Ketika membenahi rumah ini, dia dan Aran tak menemukan ada botol berisi cairan aneh. Mungkinkah kakeknya sudah menuangkan darah itu ke benda lain? Lalu dimana kakeknya menyembunyikannya? Mengingat pengaruh darah itu hanya terjadi di rumah ini, pasti kakeknya menyembunyikannya di dalam rumah. Apakah kakeknya menguburnya di bawah rumah? Sebaiknya dia mencari di tempat yang paling mudah dulu, seperti di loteng.
Iin segera mengambil tangga dan menempatkannya di bawah plafon di dapur, di sana ada semacam pintu untuk masuk ke loteng. Perlahan, Iin masuk dan menengokkan kepalanya ke dalam loteng itu. Di sana gelap dan berdebu, siang-siang seperti ini pun tempat itu terasa suram dan menyeramkan. Dia menyalakan senternya dan memberanikan diri masuk lebih jauh lagi. Dengan hati-hati, Iin melangkah di dalam loteng, berharap tempat yang dia injak tidak rubuh. Matanya menyusuri kemuraman loteng itu seirama dengan arah cahaya senternya. Beberapa kali dia dikejutkan oleh tikus dan kecoa yang berkeliaran di sekitar kakinya. Tidak lama kemudian, akhirnya dia sampai di tempat yang sepertinya merupakan tiang utama rumah itu, tiang yang pertama kali ditegakkan ketika rumah itu didirikan. Dan akhirnya, dia menemukannya.
  Iin terpana beberapa saat, dia menemukan botol itu terikat oleh seutas tali dan menggantung pada sebuah paku yang tertancap di tiang itu. Iin mendekat dan mencermatinya. Berusaha membuktikan apakah benar yang ada dalam botol itu sama dengan yang ada dalam pikirannya. Botol itu berisi cairan kental berwarna merah kehitam-hitaman. Mungkinkah ini darah? pikir Iin. Dia memegangnya dan terkejut, karena botol itu terasa hangat dan berdetak selayaknya jantung. Kenyataan bahwa darah di dalam botol itu masih cair setelah berpuluh-puluh tahun, merupakan bukti bahwa darah itu mengandung kekuatan magis, tak mengherankan jika darah itu diselimuti oleh hal-hal aneh lain.
Perasaan apa ini? Kegelapan seperti mengalungkan jemarinya di sekitar leher Iin dan berputar, membentuk sebuah pusaran, menghimpit tubuh Iin, membuatnya sulit bernapas. Di sudut matanya, cahaya retak dan jatuh serupa butiran-butiran kaca. Kakinya kehilangan tempat berpijak dan tubuhnya tersedot ke depan, ke dalam darah itu. Ada sebuah kekuatan yang memaksanya untuk memuntahkan seluruh isi hatinya. Seluruh rahasianya. Pikirannya dipaksa untuk mengingat masa lalu.
***
Dua bulan yang lalu
Tak lama setelah mereka menikah, Iin merasakan gejala kehamilan. Aran dan Iin segera memeriksakannya ke dokter untuk memusnahkan keraguan mereka. Dan ternyata benar, Iin sedang mengandung. Mereka terbuai oleh kebahagiaan. Terlampau bahagia malah. Terutama Iin. Angan-angannya sudah mengembara ke langit ke tujuh, membayangkan dia menggendong bayi mungil nan imut. Tapi itu tak berlangsung lama.
Aran pulang dari tempat kerjanya dengan wajah yang murung dan sikap yang gelisah. Iin menghampirinya dengan kepedulian seorang istri. Menanyakan keadaan suaminya, “Ada masalah apa?” Tapi Aran hanya diam, tak peduli dengan perhatian istrinya. Dia masuk ke kamar dan mengurung dirinya. Dari dalam kamar dia berteriak, “Jangan ganggu aku!” Iin tak mau memaksa jika suaminya tak mau mengatakan masalahnya, mungkin jika dia sudah tenang, dia akan bercerita dengan sendirinya.    
Iin kembali melipat pakaian di ruang keluarga. Tiba-tiba ada suara benda pecah di dapur. Iin segera memeriksanya. Ternyata hanya seekor kucing yang menyenggol gelas di atas meja. Iin bernapas lega. Dia berbalik dan terkejut melihat suaminya berdiri di belakangnya dengan wajah yang muram. Marah?
“Ada apa, Sayang?” bisiknya, sedikit takut dengan perangai suaminya.
“Tadi aku bilang jangan ganggu aku, aku sedang pusing! Tapi mengapa kamu dengan begitu ceroboh memecahkan gelas?” bentak Aran,
“Tapi bukan aku yang memecahkannya!”
Aran mendorong tubuh Iin dengan kasar hingga jatuh tersungkur di lantai, “Cukup! Aku sudah bosan dengan kebohongan!” bentaknya.
Aran berbalik dan meninggalkan Iin terbaring di lantai, entah mengapa perutnya terasa sakit sekali. Dia merasakan suatu cairan mengalir di sepanjang pahanya. Iin menyentuh cairan itu dan tersentak. Cairan itu darah. Iin keguguran.
***
Iin tersadar. Lepas dari pengaruh misterius darah itu. Segenap jiwanya terguncang. Seluruh badannya gemetar. Keringat membasahi badannya dan air mata mengalir deras di pipinya. Sejak kapan dia menangis? Dia tak lagi peduli.
Kejadian dalam ingatannya itu seperti baru saja terjadi. Darah itu rasanya masih mengalir dari perutnya, masih melekat di sela-sela jari tangannya yang gemetar. Rasa sakitnya juga masih terasa menusuk-nusuk perutnya.
Amarahnya kembali terbit. Mengapa Aran begitu bodoh? Mengapa Aran begitu ceroboh, hingga melupakan janin yang ada dalam rahimnya?
Sejak saat itu, masa-masa bahagia telah berakhir. Tak ada lagi kepedulian, kasih sayang, apalagi cinta, yang ada hanya kebencian. Ingin sekali Iin membalaskan rasa sakit hatinya. Namun, Iin tak tahu bagaimana cara menyiksa Aran dengan benar. Yang ada dalam pikiran Iin hanyalah membunuhnya, melenyapkan nyawanya secara instan.
Tiba-tiba saja, suara langkah misterius itu hadir lagi menyambut amarah dan keinginan membunuh Iin yang memuncak. “Duk, duk, duk, duk!” Perlahan seakan-akan ingin mengejutkannya. Iin memberanikan dirinya untuk menengok ke belakang. Seketika seberkas cahaya menyergap matanya.
“Mengapa kamu menangis, Sayang?” Suara yang dikenal Iin menghampiri gendang telinganya.
Ternyata yang datang itu Aran. Tadi dia mendengar suara terisak di loteng. Mulanya dia sedikit takut, dia kira ada kuntilanak muncul siang-siang. Tapi setelah dia tak menemukan Iin, dia curiga yang menangis di loteng itu adalah istrinya. Penasaran, dia memutuskan untuk memeriksanya.
“Bukan urusanmu!” bentak Iin, dia segera menghapus air mata di pipinya.
 Mata Aran menyoroti benda di hadapan Iin, “Apakah itu darah yang dimaksud Julak Ayat?”
Iin merenggut botol berisi darah itu dari tempatnya. Aran tersentak, “Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku harus membuangnya!”
“Mengapa dibuang?”
“Benda ini mungkin berbahaya!”
“Kakekmu tak mungkin membahayakan dirinya sendiri, darah itu untuk melindungi dirinya!”
“Tapi kakekku sudah meninggal, dan kita bukan siapa-siapa di sini!”
Aran mengerti maksud Iin. Dia terdiam. Iin menunggu keputusan Aran. “Aku tahu yang kau maksudkan, tapi aku berpikiran lain. Letakkan botol berisi darah itu kembali ke tempatnya!” kata Aran.
Sial. Tapi tak ada lagi yang bisa menghalangi niat Iin. Tak ada yang bisa menghalanginya untuk mencabut nyawa suaminya, malam ini. Tidak darah ini, tidak rasa takutnya. Dia sudah memutuskan.
Rembulan mengintip dari balik ventilasi. Sebilah pisau diacungkan tinggi-tinggi, berkilat, menghunus tubuh berselimut yang terlelap. Dadanya naik turun dengan tenang, tak menyadari apa yang terjadi.
Wanita yang memegang pisau itu tercekat. Dari balik punggungnya terdengar suara langkah, “Duk, duk, duk, duk!” Sangat dekat. Sangat perlahan, seakan-akan tak ingin melakukan apa yang akan dilakukannya.
Duk, duk, duk, duk!” Suara langkah itu sekarang tepat berada di belakangnya, tapi wanita itu tak peduli. Digenggamnya pisau itu erat-erat, bersiap menusuk tubuh di hadapannya. Namun tiba-tiba ada tangan yang menangkap tangan wanita itu, lalu suasana hening seketika
Banjarmasin, 1 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar